Senin, 2009 April 27

Tertawa Bantu Atasi Diabet

Tertawa dapat membantu penderita diabetes meningkatkan kadar kolesterol, demikian hasil satu studi terbaru.

Menurut Lee Berk dari Loma Linda University, yang memimpin studi itu,pilihan gaya hidup memiliki dampak mencolok dalam kesehatan dan penyakit, dan ini semua adalah pilihan yang ia dan pasien lakukan sebagai tindakan pencegahan dan pengobatan.

Para peneliti membagi 20 pasien diabetes yang beresiko tinggi --semuanya juga menderita darah tinggi dan hyperlipidemia (faktor resiko bagi penyakit pembuluh darah dan jantung)-- menjadi dua kelompok. Kedua kelompok tersebut diberikan obat diabetes standar.

Kelompok L diberi waktu 30 menit untuk menikmati humor yang mereka pilih, sementara Kelompok C --kelompok pemantau-- tidak. Proses itu berlangsung selama satu tahun pengobatan.

Sekitar dua bulan proses pengobatan, semua pasien di kelompok tertawa (Kelompok L) memiliki tingkat hormon epinephrine dan norepinephrine yang lebih rendah, keduanya dipandang sebagai penyebab stres. Stres diketahui sangat mematikan.

Setelah 12 bulan, kolesterol HDL (kolesterol baik) telah naik 26 persen pada Kelompok L, tapi hanya 3 persen di dalam Kelompok C.

Dalam pengukuran lain, protein C-reaktif, penanda radang dan penyakit pembuluh darah, serta jantung, turun 66 persen di dalam kelompok tertawa tapi hanya 26 persen pada kelompok pemantau.

"Dokter terbaik mengerti bahwa ada campur-tangan psikologis hakiki yang ditimbulkan oleh emosi positif, seperti gelak tawa dengan riang-gembira, optimisme, dan harapan," kata Berk.

Kendati demikian, Berk mengatakan, tawa tentu saja dapat menjadi obat yang bagus dan sama berharganya dengan obat diabetes, tapi ia bersikeras bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan guna memastikan apa maksud dari semua hasil itu. [ant/www.hidayatullah.com]



Minggu, 2009 April 26

Melihat Partai Demokrat… Partainya SBY !

oleh : Imansyah

Perolehan suara Partai Demokrat pada PEMILU kali ini benar - benar mencengangkan para pesaingnya. Meningkat sekitar 300 % dari PEMILU sebelumnya tahun 2004. Timbul pertanyaan apakah memang benar bahwa Partai Demokrat telah menjelma menjadi sebuah partai besar dalam peta perpolitikan di tanah air tercinta ini atau ada fenomena yang lain.

Diakui atau tidak, sebenarnya struktur Partai Demokrat belumlah begitu kokoh seperti Partai Golkar atau PDI P dan kader - kader yang ada belumlah semilitan kader - kader yang lain seperti PDI P atau PKS. Lalu apa yang menjadi sebab sebagian besar pemilih pada PEMILU 9 April kemarin menjatuhkan pilihannya pada Demokrat ?

FaKtor SBY adalah jawabannya. Figur SBY yang santun, dengan bahasa tubuh yang enak dilihat merupakan kunci kemenangan Partai Demokrat. Belum lagi peluncuran BLT menjelang Pemilu menambah daya tarik tersendiri khususnya bagi ” wong cilik” untuk menjatuhkan pilihan bagi Partai Demokrat.

Klaim keberhasilan pembangunan, BLT, PNPM Mandiri, iklan sekolah gratis, dll yang begitu gencar di layar kaca menambah keyakinan rakyat bahwa pembangunan di bawah kepemimpinan SBY yang otomatis adalah iconnya Partai Demokrat harus di ” Lanjutkan”. Namun harus diingat pula bahwa sesungguhnya pemerintahan SBY gagal mengurangi angka kemiskinan ditengah2 klaim keberhasilan yang digembor2kan. Ini merupakan hutang dan tantangan SBY serta Partai Demokrat untuk 5 tahun ke depan.

Dibeberapa tempat yang dimenangkan oleh Partai Demokrat para pemilih yang ditanya mengapa memilih Demokrat ? Jawabnya karna SBY, bukan karena memiliki visi misi yang bagus atau karena ideologi partai atau karena kerja keras dari kader2nya. Buktinya banyak yang memilih lambang partai dibandingkan dengan caleg2nya karena sebagian besar memang tidakdikenal masyarakat. Masyarakat tahunya bahwa Partai Demokrai itu adalah Partainya SBY seperti iklan yang sering tampil di media massa baik cetak maupun elektronok. Bisa jadi SBY sendiri jauh lebih besar dari Partai Demokrat.

Apalagi pemilih Partai Demokrat sebagian besar dapat dikategorikan sebagai pemilih “indekos” yang bisa jadi akan berpindah ke partai lain pada Pemilu yang akan datang. Berbeda dengan partai lain semacam Partai Keadilan Sejahtera yang diikat oleh ideologi partai tanpa menonjolkan tokoh. Bagaimana pada tahun 2014 nanti ? Setelah SBY tidak bisa lagi dicalonkan sebagai capres, anggaplah SBY dapat memenangkan Pilpres tahun 2009 ini. Sudah siapkan Partai Demokrat ? Bisa2 Partai Demokrat akan bangkrut ditinggalkan pemilihnya. Kita lihat saja nanti .

Okey, Selamat berjuang Partai Demokrat dan Pak SBY…… “Lanjutkan !” Salam Blogger !

http://www.facebook.com/ext/share.php?sid=91668950241&h=VzMNE&u=1QqVo&ref=mf

Mencermati Masalah DPT

oleh : Imansyah

Carut marutnya masalah DPT pada Pemilu legislatif 9 April kemarin, diakui suka atau tidak suka telah mengurangi kwalitas pesta demokrasi di negara kita tercinta ini. Menganggap persoalan DPT hanya kesalahan administratif belaka merupakan tindakan yang terlampau menyederhanakan suatu masalah.

Masalah DPT bukan hanya masalah administratif belaka, bahkan lebih jauh dari itu. Banyaknya warga negara yang tidak bisa memilih dikarenakan kacaunya DPT merupakan masalah yang serius. Hak politik warga negara yang dijamin oleh Undang - Undang terampas karena kacaunya DPT.

Siapa yang harus bertanggung jawab ? KPU sebagai penyelenggara Pemilu merupakan pihak yang paling bertanggung jawab, kemudian pemerintah lewat Depdagri . Sudah berapa kali presiden di jaman reformasi ini tapi masalah administrasi kependudukan masih kacau balau, sudah berapa besar biaya dikucurkan namun administrasi kependudukan yang handal masih belum bisa diwujudkan.

Tapi sampai hari ini, KPU atau Pemerintah belum sekalipun meminta maaf kepada rakyat yang terampas hak - hak politiknya karena kacaunya DPT ini.

Belum lagi beberapa partai politik coba bermain, mempermasalahkan keabsahan Pemilu ini karena kacaunya DPT . Semakin menambah ruwet, dan semakin tambah menjemukan.

Semoga masalah DPT ini takkan terulang lagi pada Pemilu Pilpres bulan Juli nanti.

http://www.facebook.com/ext/share.php?sid=75953227565&h=qe6OO&u=sz7Ee&ref=mf


Minggu, 2009 April 05

Wajah Sebuah Negeri

oleh Anazkia

Inilah wajah sebuah negeri
Negeri kelahiranku, negeri tercinta
Negeri Indonesia

Yang tiap harinya ada kelaparan
Yang tiap harinya ada kemiskinan
Yang tiap harinya ada penganiayaan
Yang tiap harinya ada pembunuhan Bahkan,
Yang tiap harinya ada korupsi
Yang tiap harinya penipuan terjadi di seluruh pelosok negeri

Dari tukang kuli, sampai orang yang berdasi
Di manakah keberkahan sebuah negeri...???

Awal mendapatkan kartu nama ini, aku sempat juga membuat puisi. Entahlah… Ko rasanya lucu dan cukup menyakitkan saat aku mendapatkannya. Bahkan, saat pertama kali aku mengenal dengan orang ini. Namanya cukup singkat, “Enjen” hanya lima huruf khas nama Sunda. Bekerja di Syarikat Rent car, tour and travel di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Berawal dari kepulanganku ke Indonesia setelah merantau di Negeri orang. Sebelum pulang, sebetulnya aku sudah cukup khawatir dan takut mengenai pemerasan di Bandara Soekarno-Hatta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Dalam ketakutan dan kekhawatiran, akhirnya di beli juga tiket pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

Pun ketika aku bertanya kepada orang-orang yang telah pulang melewatinya. Mereka banyak yang mengaku kecewa dengan birokrasi yang ada di sana. Dalam kebimbangan dan keragu-raguan akhirnya aku pulang juga ke Negeri kelahiran Indonesia. Negeri yang selama dua tahun aku tidak menjenguknya, Negri yang selama aku merantau hanya aku dengar ceritanya. Berbagai nasihat dan petua sudah aku daptkan, termasuk nasihat dari seorang isteri pekerja ekspatriat.

Akhirnya, selamatlah aku mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Masih dalam ketakutan, jantung berdetak melebihi biasanya. Aku berusaha serileks mungkin. Dengan gaya baju yang seolah-olah seperti pelajar, Nyatanya, aku tetaplah Pahlawan Devisa yang pintu laluannya sudah di sediakan. Terpampang tulisan besar setelah keluar dari pintu imigrasi, “SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA.” Sedikit bangga dengan tulisan itu meskipun dalam hati kadang lucu juga, Pahlawan Devisa tak ubahnya seperti Pahlawan Tanda Jasa. Mereka jarang atau bahkan tidaak begitu di hiraukan.

Semuanya berjalan lancar, passport sudah di periksa. Aku berjalan ke arah kanan untuk menuju pintu 3 khusus untuk tenaga kerja yang baru pulang. Kemudia di hantar dengan Bis menuju ke daerah dan kota asal masing-masing. Disinilah semuanya bermula, katanya, sewaktu mendaftar bayar tergantung kepada daerah mana mereka akan tuju. Yang lebih menyedihkan ternyata, setelah mereka sampai di tempat tujuan sopir travel meminta lagi bayaran lebih. Ini tidak hanya menimpa para pekerja rumah tangga, para pekerja Pabrik pun mengalaminya. Dan lagi, para pekerja tidak boleh di jemput oleh keluarganya

Dan malangnya, kaka ipar aku sudah menunggu di luar. Dalam berpikir, ada seorang petugas yang mendekati aku dan mengajaknya berbincang. Petugas ini pake seragam dan aku yakin, dia memang pekerja di Bandara Soekarno-Hatta dan bukan oknum yang seperti aku gambarkan. Dari bebeapa dialog, aku ambil kesimpulan memang keluarga tidak boleh menjemput. Tapi anehnya, dia memanggil seorang lagi yang gayanya kaya Pak Polisi tapi berpakaian biasa.

Di kenalkannyalah aku dengannya. Ngobrol sebentar, terus orang itu meminta nomor hp kakaku. Kalau aku rasa, ini adalah sebuah sindiket, terorganisir dan banyak orang di dalamnya. Terbukti, sudah ada orang lain yang menghubungi kakaku. Aku pun dah syak, kalau mereka akan meminta uang kepada kakaku. Lama aku menunggu terkadang, suaraku agak meninggi ketika bercakap dengan orang oknum tadi. Yang lebih lucu, ketika dia bilang “Mbak ini cerewet amat, tujuan kita mau menyelamatkan mbak.” Aku pun dengan ketus menukas, “Mau menyelamatkan atau menghanyutkan mas…?” Mendengar kata-kataku oknum itu sepertinya terkejut dan aku yakin dia marah. Aku sich, cuek aja.

Lama menunggu, akhirnya tibalah aku keluar dari Bandara tanpa melewati pintu 3. Tapi melewati pintu 2 seperti penumpang yang lainnya bukan melewati pintu para TKI dan ini aku harus bayar mahal. Sebelum beredar, oknum tadi mengingatkan, supaya aku jalan lurus saja dan oknum tadi berada jauh di depanku. Aku semakin syak, ini pasti lewat gak bener bertambahlah kekhawatiran aku. Sebelum beredar dari situ, seorang berseragam biru mencegat oknum tadi, membisikan sesuatu. Terjadi negosiasi akhrinya, oknum tadi mengeluarkan dompetnya dan selembar uang di hulurka kepada orang berseragam biru.

Aku berjalan dengan perasaan takut dan was-was. Oknum tadi berjalan jauh di depan. Tiba-tiba seorang berseragam biru mencegatku. Wah tambah deg-degan aku. Dari jauh, oknum tadi memberi isyarat kepada orang berseragam biru. Kemudian, dibiarkannya aku berlalu tanpa sembarang pertanyaan dan pemeriksaan. Sebelum keluar dari situ, ada dua orang yang menjemput ku untuk membawaku ke atas. Dan di depan lift kakaku sudah menunggu. Di bawanya aku terburu-buru. Sebelum menaiki taksi, terjadi lagi adegan salaman yang meberi arti, aku rasa mereka memberikan uang. AKu lihat tukang sapu di Bandara, sepertinya dia sudah faham dengan apa yang berlaku.

Naiklah aku bersama dengan kakaku ke taksi. Sebauh taksi Bandara, cantik mobilnya APV. Tidak lama kemudian taksi pun jalan, di sebelah sopir duduk seorang lagi yang aku tidak kenal. Setelah lama berjalan, nyatanya kita hanya di ajak keliling Bandara. Kemudian balik lagi ke tempat semula. Ah, sungguh ironis! Ternyata mereka bekerja sama untuk mengaut uang para TKI yang baru pulang.

Kita saling bertekak, aku marah. Yang herannya, kaka ipar aku nih nyantai aja. Dia nih emang low profile abis. Kalau mau keluar dari Bandara ini, kita harus bayar Rp.250.000. Waduh, pelik bin ajaib asli mahal banget fikir aku. Aku tanya ke kakaku, berapa tadi dia kasih uang ke oknum tadi. Nyatanya, sudah Rp.700.000 dia berikan kepada oknum tadi. Aku semakin kesal. Untuk meluahkan kekesalan aku, aku pun bertepuk tangan dan berkata, “Horeee….. Aku kena tipu…” Tak ayal, mereka semakin marah agaknya. Dari pada ribut, akhirnya aku putusin, “dah Pak, anterin kita ke Kalideres.”

Akhirnya berjalanlah taksi menuju ke Kalideres. Orang yang duduk di sebelah sopir tadi turun. Masih dengan nada suara yang tinggi dan aku rasa dia marah, Pak sopir bercerita kalau dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu bawa saja. Dalam hati, “gue kaga percaya tuh…” Tapi, aku menenangkan diri, mencoba bersabar, siapa tahu dari sini aku bisa korek, kemana aja duit aku tadi…???

Lama kelamaan, Pak sopir itu bersikap biasa. Aku dan kakaku pun ngobrol seperti biasa. Tidak adalagi nada marah dan kecewa. Akhirnya, aku mempunyai celah untuk bertanya tentang cerita di Bandara.
“Pak, aku ikhlasin gak yah uang aku yang tadi?”
“Yah, saya mah gak tahu. Itu mah tergantung eneng.”
“Uang yang tadi itu, kemana aja yah pak…???”
“Yah buat mereka-mereka lah neng. Kalau di ikutkan, tiap orang gak dapet banyak. Karena di bagi banyak orang.” Wah, satu ilmu nih, dalam hati aku. Ternyata ini kerja orang-orang yang gak bertanggung jawab. Memeras duit orang, tanpa memeras keringfat sendiri. Hanya memeras otak, gimana caranya nipu orang. Walah… Moga aja yang mereka makan mendapat keberkahan dari Allah.
“Neng, kalau TKI pulang memang gak bisa di jemput. Meskipun eneng punya kenalan orang dalam aturannya tetap begitu. Sejak keputusan Presidan melarang anggota keluarga menjemput TKI.” Pak Sopir berusaha menjelaskan. “Tadi neng di minta berapa?”
“Tujuh ratus ribu Pak…”
“Itu di kira murah neng, kadang ada lebih mahal.” Ujarnya. Aih, kasihan amat yah nasib Pahlawan Devisa nih…

Mobil terus berjalan menerobos kesesakan lalu lintas. Meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta yang mengoreskan sedikit luka di hati kecilku. Ah, kenapa setelah di Negeri sendiri aku justeru harus di tipu?. Kenapa di saat memasuki Negara sendiri aku harus mengeluarkan beribu-ribu. Duhai Allah, inilah wajah bangsaku…??? Di mana wajah dan gambaran sebuah negeri yang loh jinawi..??? di mana cerita nenek moyang kita yang sopan antun dan menghargai…??? Negeriku sudah berwarna-warni. Dicampuri tidak hanya oleh asap polutan dan kekotoran tapi di warnai juga oleh sifat dan kekotoran manusianya. Wahai Allah… adakah keberkahan di Negeri ini…???

Berbagai soalan bermunculan di benakku. Pak Sopir masih bercerita, katanya pernah juga ada TKW dari Lampung yang menangis sampai terguling-guling di Bandara. Entahlah… aku pun heran dengan para oknum. Mungkin, mereka menyangka para TKW yang baru pulang itu banyak uangnya. Hakikatnya, tidak seperti itu. Ada yang pulang dengan hanya membawa uang beberapa juta saja. Uang mereka sudah di kirimkan tiap bulannya.
Di tengah-tengah perjalanan Pak Sopir menghulurkan kartu namanya. Aku terima aja. Aku simpan, siapa tahu aku ke Bandara lagi. Kalideres semakin dekat, kami pun semakin akrab dengan Pak Sopir. Tapi, kami meminta di turunkan di Kebon Nanas.

Sampailah kami di Kebon nanas. Pak Sopir menepikan mobilnya. Aku memberikan sekeping coklat Cadbury kepada kakaku, untuk Pak Sopir. Kakaku menghulurkannya ke depan. Pak Sopir begitu berterimakasih. Sementara kakaku turun mencari bis, Aku menunggu di dalam mobil. Selesai parkir Pak Sopir berucap,
“Neng, jangan nyangka Bapak nipu yah. Bapak juga nyari uang untuk keluarga. Bapak mah kerja aja. Gak tahu apa.” Ujarnya. Aku tidak menyangka Pak Sopir akan berkata demikian.
“Iya pak, saya faham.” Sedih dan terharu mendengar kata-katanya. Kalaulah birokrasi di Negara kita berjalan dengan sempurna, tentunya tidak adalagi keragu-raguan dalam bekerja. Aku rasa, Pak Sopir mungkin tidak enak hati dengan apa yang berlaku. Dan aku yakin, dia orang yang baik.

Bis jurusan Merak sudah datang. Aku pun turun dari mobil tak lupa ucapan maaf dan terimakasih aku ucapkan kepada Pak Sopir. Kakaku bersalam dengan Pak Sopir. Kami pun menaiki Bis jurusan Merak. Teringat kata pakar motivasi favoritku, “orang jahat, tidak akan berbuat jahat kepada orang jahat, tentunya dia akan mencari orang baik sebagai korbannya.” Alhamdulilah, Terimakasih Ya Allah… Engkau telah selamatkan aku. Sesungguhnya, dari Engkaulah datangnya semua kebaikan. Dan segala keburukan itu datangnya dari aku, manusia yang lemah.

Source : http://www.eramuslim.com/oase-iman/wajah-sebuah-negeri.htm


Selasa, 2009 Maret 17

Memperebutkan Pepesan Kosong

Kampanye pemilu 2009 secara terbuka dimulai. Dengan didahului deklarasi para pimpinan partai politik, yang akan melakukan aktivitas kampanye dengan damai, tertib, dan aman. Deklarasi ini menjadi komitment partai-partai yang akan menyelenggarakan kampanye. Inilah sebuah eksperiman besar, yang kedua sesudah reformasi, dan akan diikuti 170 juta pemilih, dan ini mungkin model demokrasi yang paling bebas di muka bumi.

Pemilu 2009 ini, diikuti 38 partai politik. Dengan tingkat kualitas partai politik berbeda-beda. Tapi, pemilu ini juga paling mahal, bila dibandingkan dengan kondisi bangsa yang megap-megap di timpa krisis, sejak tahun 1998, yang hingga kini belum berakhir. Dan, kini dihadapkan krisis baru, yang diakibatkan krisis global, dan dampaknya sampai kepada Indonesia.

Bayangkan. Biaya pemilu legislative dan presiden 2009, menurut KPU biayanya sebesar 14 trilyun rupiah.Belum lagi berapa partai-partai politik harus mengeluarkan biaya kampanye? Menurut sebuah lembaga survei, yang mengevaluasi penerimaan media massa dari iklan, tak kurang partai-partai itu, sudah mengeluarkan biaya lebih 20 trilyun rupiah, hanya untuk iklan.

Lalu, berapa kalau ditambah dengan biaya untuk atribut? Seperti baliho, poster, spanduk, panflet, liflet, stiker, gambar dan foto para caleg, pin, bros, dan lainnya, serta ditambah biaya kampanye, plus untuk aktivitas pra kampanye, dan sesudah kampanye, seperti menjadi saksi-saksi di Tps.Semuanya, bisa mencapai 100 triyun lebih.Belum lagi kalau ada sengketa dalam pemilu, pasti akan ada biaya tambahan lagi. Padahal, tujuannya hanya untuk memilih ‘wakil rakyat’ di tingkat pusat (DPR), propinsi (DPRD I), dan daerah (DPRD II).

Sekarang, ditambah adanya keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) yang mengubah secara mendasar sistem pemilu, dari nomor urut kepada suara terbanyak, yang berhak menjadi anggota legistlatif, persaingan diinternal partai dan antara partai politik semakin keras. Inilah yang mendorong perlombaan partai-partai politik di pemilu 2009.

Sebelumnya, selama dua tahun terakhir ini, sudah berapa banyak uang yang harus dikeluarkan partai-partai dan peorangan untuk Pilkada yang memilih gubernur, bupati dan walikota seluruh Indonesia? Indonesia ini termasuk bangsa yang ajaib. Dari titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya. Dari rejim otoritarian yang sangat tertutup, dan menjadi rejim demokratis yang sangat bebas.

Apakah dengan model demokrasi ini, di masa depan akan menghasilkan perubahan yang mendasar bagi kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia? Tentu, kuncinya ada di partai-partai politik. Karena, partai-partai politik yang ada sekarang ini, dan berdasarkan sistem demokrasi yang sudah diatur oleh konstitusi, mempunyai kewenangan dan peran yang sangat menentukan bagi proses tranformasi politik di Indonesia.

Melalui partai politik inilah sebenarnya, diharapkan akan terjadinya sirkulasi (pergantian) kekuasaan dan kepemimpinan nasional (presiden dan wakil presiden) secara teratur, tanpa konflik. Melalui partai politik pula, sirkulasi kepemimpinan di tingkat daerah, propinsi, kabupaten dan kota. Seperti gubernur, bupati dan walikota. Semua prosesnya melalui pemilu, yang sudah diatur undang-undang. Termasuk terpilihnya anggota legislatif, yang menjadi wakil rakyat di parlemen.

Persoalannya, di partai-partai politik masih sangat terbatas proses pembangunan kepemimpinan di internal mereka. Dengan tingkat kemampuan pemahaman ideologi (nilai), organisasi partai politik, menejerial, dan pengelolaan gerakan, yang masih belum memadai. Aktivitas partai politik hanya berlangsung, dan ramai, setiap lima tahun sekali, menjelang pemilu.Mereka tidak melakukan pembinaan kadernya secara teratur dan ajek. Mereka juga sangat terbatas dalam melakukan kerja-kerja politik, dan kini partai politik menjadi sebuah oligarki, yang sangat elitis, dan tidak egalitarian. Dan, nyaris kebanyakan partai politik, mirip sebuah perusahaan pribadi. Inilah yang melemahkan partai-partai politik yang ada, di tingkat partisipasi. Dan, akhirnya hanya mengandalkan politik 'uang'.

Partai-partai politik tidak bekerja untuk rakyat sepanjang tahun dengan program-programnya, sebagai bagian dari affirmasi (penguatan), dan advokasi (pembelaan), serta edukasi (pendidikan) politik. Sehingga rakyat mengalami proses penyadaran, sekaligus meningkatkan kualitas mereka.

Sekarang ini, fungsi partai politik baru sebatas, apa yang disebut, ‘agregasi’ mengumpulkan orang (pendukung), yang kualitasnya sangat berbeda-beda. Mestinya menjadi tujuan setiap partai untuk melakukan pendidikan politik yang sifatnya teratur sepanjang tahun. Pengenalan terhadap nilai-nilai partai, visi, platform, dan program-program mereka.

Tapi, sekarang ini partai banyak melahirkan kader partai dan pemimpin dadakan, yang tidak jelas asal-usulnya, dan hanya mengandalkan iklan. Artinya, yang lahir nanti kelas pemimpin ‘iklan’. Bukan pemimpin rakyat, dan memiliki otoritas sebagai seorang negawaran dan politisi yang sejati. Karena, hakekatnya mereka tidak pernah melakukan kerja-kerja riil ditengah-tengah masyarakat.

Sebenarnya, di masa depan dengan pendidikan politik yang konsisten, terarah, dan teratur, memungkinkan akan melahirkan kader-kader yang memiliki karakter, sikap politik, memahami tujuan perjuangan partainya, dan memiliki komitment yang kuat untuk melaksanakan misi partainya. Bukan jenis kader ‘bunglon’, yang memiliki segala warna, oportunistik, serta model pragmatis, dan hanya mampu bergantung pada dukungan partai, bukan dukungan rakyat.

Maka, kalau model pemimpin seperti ini yang dominan, dan anggota legislative yang akan dipilih, betapapun Indonesia menyelenggarakan berulangkali pemilu, tidak akan menghasilkan proses tranformasi politik yang memadai, khususnya bagi pembangunan dan perbaikan Indonesia. Karena, rakyat hanya memilih ‘pepesan kosong’.

Tentu, demokrasi model ini, yang untung tak lain adalah para pemilik modal dan para 'cukong', dan akhirnya pemimpin yang ada hanyalah menjadi boneka para pemilik modal dan 'cukong'. Wallahu ‘lam (m)

Source : www.eramuslim.com

Minggu, 2009 Maret 08

Nasehat untuk Para Pemimpin Politik

Oleh: Nuim Hidayat

Sultan Muhammad Al Fatih dikenang sejarah Islam atas kemuliaan dan keadilannya dalam berpolitik. Bisakah calon pemimpin kita seperti itu?

"Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam." (Surat Khalifah Ali r.a. kepada Gubernur Mesir).

JABATAN politik saat ini menjadi tren dan rebutan jutaan orang dan partai politik. Kampanye lewat spanduk, brosur, kartuIlsutrasi nama, facebook, email bertebaran di dunia nyata maupun dunia maya. Salah satu sisi, hal itu menambah ketidaksedapan keindahan tata kota, tapi di sisi lain hal itu tidak bisa dihindari, karena peraturan negara lewat KPU sendiri dibuat untuk memubahkan hal-hal seperti itu.

Tentu ketika mencalonkan menjadi caleg, capub, cagub atau capres, mereka mempunyai mimpi-mimpi indah untuk diri mereka. Kita tidak tahu apakah mereka mempunyai mimpi indah juga untuk konstituen atau masyarakatnya. Misalnya bila dihadapkan pada kondisi krisis, siapa yang dikorbankan dirinya atau rakyatnya, kita tidak tahu apa yang ada dalam benak mereka.

Para ulama dan pemimpin-pemimpin Islam dalam sejarah, telah memberikan nasehat yang berharga tentang masalah ini. Diantaranya adalah nasihat khalifah keempat yang mulia Ali bin Abi Thalib kepada gubernur Mesir Malik bin Harits al Asytar, pada tahun 655M. Nasihat ini berisi prinsip-prinsip dasar tentang pengelolaan atau manajemen sebuah pemerintahan, organisasi dan lain-lain.

Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata surat ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat, ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric.

Berikut cuplikan nasehat-nasehat Sayyidina Ali r.a. yang sangat berharga itu:

"Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang Gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar. Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.

Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka. Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan 'menggelapkan' semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang. Dengan sikap yang waspada itu, kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.

Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut. Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka. Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka. Sesungguhnya manusia itu ada dua jenis, yakni orang-orang yang merupakan saudara seagama denganmu dan orang-orang sepertimu.

Mereka adalah makhluk-makhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu. Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka.

Janganlah engkau persiapkan dirimu untuk memerangi Allah, karena engkau tidak mungkin mampu menolak azab-Nya dan tidak mungkin dirimu akan meninggalkan ampunan dan rahmat-Nya.

Janganlah pernah menyesal atas ampunan yang kau berikan. Begitupun janganlah bergembira dengan sebuah hukuman. Jangan pula tergsa-gesa memutuskan atau melakukan semata karena emosi, sementara engkau sebenarnya dapat memperoleh jalan keluar.

Jangan katakan:"Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati", karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.

Jangan sampai engkau melawan Allah dalam keagungan-Nya dan menyerupai-Nya dalam keperkasaan-Nya. Sesungguhnya Allah akan merendahkan setiap orang yang angkuh dan menghinakan setiap orang yang sombong.

Senantiasa belajarlah segala sesuatu hal pada mereka yang memiliki pengalaman yang matang dan penuh kebijakan. Seringlah bertanya pada mereka tentang hal-hal kenegaraan sehingga engkau dapat mempertahankan kebaikan dan perdamaian yang oleh para pendahulumu sudah pernah ditegakkan.

Tajamkanlah matamu pada orang-orang yang sejak dulu atau sekonyong dekat denganmu, akan cenderung menggunakan posisinya untuk mengambil atau mengorupsi milik dan hak orang lain dan siap berlaku tidak adil. Tekanlah sedalamnya kecenderungan seperti itu.

Buatlah peraturan-peraturan di bawah kendalimu yang tidak memberi kesempatan sekecil pada kerabatmu. Hal itu akan mencegah mereka melakukan kekerasan pada hak orang lain dan menghindarkanmu dari kehinaan di depan Allah dan manusia umumnya."

Menarik juga membaca surat wasiat Sultan Muhammad al Fatih (831 M) kepada anaknya. Al Fatih oleh para ulama dan sejarawan Islam disebut sebagai penakluk Konstatinopel. Ia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah saw sebagai : "Konstatinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara." (HR Ahmad)

Dr. Ali Muhammad as Shalabi mengemukakan sifat-sifat mulia Muhammad al Fatih. Sifat-sifat itu adalah: perhatian yang tinggi terhadap universitas dan sekolah, kepeduliannya yang besar terhadap para ulama, perhatiannya terhadap penyair dan sastrawan, kepeduliannya terhadap penerjemahan buku-buku, perhatiannya terhadap pembangunan dan rumah sakit, kepeduliannya terhadap perdagangan dan industri, perhatiannya terhadap masalah administrasi, kepeduliannya terhadap tentara dan armada laut dan komitmennya pada keadilan.

Masih ada yang lain, cuplikan dari nasehat sang penakluk Konstatinopel (Turki) itu:

"Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih. Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi. Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian. Hindari bid'ah-bid'ah yang merusak. Jauhi orang-orang yang menyuruhmu melakukan itu. Lakukan perluasan negeri ini melalui jihad. Jagalah harta baitul mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali engkau mengulurkan tanganmu pada harta rakyatmu kecuali itu sesuai dengan aturan Islam. Himpunlah kekuatan orang-orang yang lemah dan fakir, dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak.

Oleh sebab ulama itu laksana kekuatan yang harus ada di dalam raga negeri, maka hormatilah mereka. Jika kamu mendengar ada seorang ulama di negeri lain, ajaklah dia agar datang ke negeri ini dan berilah dia harta kekayaan. Hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan jangan pula dengan banyaknya tentara. Jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintu-pintu istanamu. Janganlah kamu sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj (pedoman) hidup kita dan dengan agama kita menang.

Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil, lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran."

Karena kemuliaan Muhammad al Fatih ini, sehingga menjadi pemimpin besar dalam sejarah Islam. Bisakah pemimpin politik kita besikap seperti itu? Wallahu aziizun hakiim.*

Penulis adalah Institus Pertanian Bogor (IPB).
Source : www.hidayatullah.com

Demokrasi, Barang Curian Milik Islam?

Oleh Tohir Bawazir *

Realitas sejarah menunjukkan, sistem demokrasi lebih dekat kepada Islam dibanding sistem lainnya?

Menghargai perbedaan pendapat adalah salah satu akhlak yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selagi perbedaan pendapat itu tidak menyangkut hal-hal yang substansial dalam aqidah. Jika menyangkut hal yang sudah qath'i (pasti), ummat Islam harus sudah bersepakat untuk hal itu. Misalnya soal wajibnya sholat, puasa, zakat, haji dan berbagai hukum yang sudah jelas dan terperinci yang sudah diatur dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits, maka tugas kita hanyalah menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya semampu kita. Di sini ummat Islam tidak diberi ruang untuk menyelisihi apa yang sudah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan, banyak ruang gerak yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya untuk mengatur kehidupannya berdasarkan asas manfaat dan maslahat kehidupan, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Syariat. Kita juga yakin, kemaslahatan kehidupan sudah pasti akan selaras dan sejalan dengan tuntunan syariat Islam. Termasuk dalam kancah wilayah politik untuk memilih pemimpin dan mekanisme kenegaraan.

Dalam sistem pemerintahan seperti yang kita kenal sekarang, terdiri dari berbagai model pemerintahan, ada demokrasi, teokrasi/negara keagamaan, diktator, kerajaan atau bisa pula ada sistem kombinasi dari berbagai sistem. Di Negara Inggris misalnya dikenal sistem kerajaan, namun pada saat yang sama ada sistem demokrasi dimana selain ada raja/ratu sebagai kepala negara secara simbolis, namun pada saat yang sama kekuasaan yang riil justru dipegang oleh perdana menteri yang dihasilkan dalam sistem pemilu secara demokratis. Namun di Saudi Arabia berbeda pula, mereka menggunakan sistem kerajaan mutlak. Raja lah yang sepenuhnya berkuasa membuat merah dan putihnya negara dan rakyat. Walaupun di sana ada dewan ulama yang memberi nasehat kepada raja, namun aspirasi masyarakat bisa dibilang tidak terwakili. Apabila rajanya baik, maka nasib rakyat dan bangsanya ikut kena imbas baiknya, namun jika buruk, maka rakyat akan menanggung keburukannya. Ada pula yang tampaknya seperti sistem demokrasi, namun hakekatnya diktator. Statusnya seorang presiden, namun hakekat kekuasaannya dan masa berkuasanya lebih mirip model kerajaan. Ini banyak contohnya, terutama banyak dialami oleh negara-negara Dunia Ketiga (Negara-negara Asia, Afrika maupun negara-negara di Amerika Latin), termasuk di Indonesia di era Orde Lama dan Orde Baru.

Dalam tiap sistem pemerintahan, sudah barang tentu ada kebaikannya dan keburukannya. Termasuk di dalam sistem kerajaan pun ada segi positifnya, minimal dari segi biaya politiknya sangat murah karena tidak perlu ada pertarungan para kandidat calon pemimpin, karena kekuasaannya sudah diwariskan/diturunk an secara kekeluargaan, bisa dari ayah ke anak, atau ke saudara dsb. Murah dan efisien, lebih-lebih jika rakyatnya bisa menerima sistem ini. Namun madharatnya juga besar. Karena hak berkuasa seolah-olah hanya milik seseorang/keluarga raja saja, rakyat tidak punya hak memimpin, mengoreksi, atau sekedar berbeda pendapat, walau memiliki kualitas yang mumpuni. Dalam sistem demokrasi pun ada manfaat dan madharatnya, positif dan negatifnya. Begitu dalam sistem otoriter pun walaupun banyak sisi negatifnya tetap saja ada sisi-sisi positifnya.

Dalam sistem demokrasi, ada kekurangan yang cukup fundamental yaitu "one man one vote", satu orang satu suara. Tidak peduli apakah orangnya sama moralnya, ilmunya, kedudukan maupun tingkat pendidikannya dsb. Suara seorang ustadz disamakan dengan suara pelaku maksiat, orang kafir, munafik dsb. Suara seorang profesor sama bobotnya dengan suara orang yang tidak tamat SD, dsb. Sehingga pernah ada yang mengusulkan agar rakyat yang berhak ikut pemilu (punya hak pilih) tidak cukup sekedar sudah cukup dewasa umurnya, namun juga pendidikannya minimal lulusan SMP, agar punya kapasitas ilmu yang lebih memadai sehingga dapat menentukan hak pilihnya lebih baik lagi.

Sistem demokrasi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan cenderung sistem ini paling menghabiskan banyak dana masyarakat dan negara, sedang tujuan yang ingin dicapai belum tentu diperoleh dengan baik. Demokrasi yang kita alami di Indonesia contohnya, menyedot biaya yang terlalu besar,energi yang terlalu banyak karena kendornya pengawasan dan mudahnya pendirian partai politik, sehingga menimbulkan euforia partai politik yang berlebihan.

Era khilafah

Kalau kita kembalikan ke tarikh Islam, sistem politik untuk memilih pemimpin / khalifah, dimulai setelah junjungan kita Nabi Muhammad SAW wafat. Ummat sempat bingung untuk menentukan siapa pengganti Rasul untuk memimpin ummat Islam. Orang-orang Anshor (penduduk asli Madinah) sudah akan memilih Sa'ad bin Ubadah sebagai pemimpin dari kelompok Anshor di Saqifah (aula pertemuan) dan mempersilahkan orang-orang Muhajirin (orang-orang Mekkah yang berhijrah ke Madinah) agar memilih pemimpinnya sendiri. Dari sini sudah cukup jelas bahwa Rasulullah tidak mengatur secara jelas mekanisme pemilihan khalifah/pengganti Rasul secara baku/tetap. Kalau sudah baku sudah pasti tidak ada saling sengketa dan perbedaan pendapat di antara mereka. Yang bisa menyelesaikan perbedaan pendapat yang berpotensi menimbulkan perpecahan di Saqifah justru argumen yang sangat mantap yang disampaikan oleh Shahabat Umar bin Khaththab ra. Umar mengusulkan agar masyarakat secara aklamasi mengangkat Abubakar Shiddiq ra sebagai khalifah pengganti Rasul karena berbagai pertimbangan diantaranya; Beliau orang dewasa pria pertama yang masuk Islam; Beliau pula yang oleh Rasul digelari Ash-Shiddiq; Beliau adalah satu-satunya shahabat yang diajak berhijrah bersama-sama Rasul dan Beliau satu-satunya yang diijinkan/disuruh oleh Rasul untuk mengimami sholat berjamaah ketika Rasul sakit dan tidak bisa menghadiri /mengimami sholat berjamaah di Masjid Nabawi. Mengingat kuatnya hujjah Umar tersebut, maka masyarakat baik dari Anshor maupun Muhajirin mengerti dan menerima sepenuhnya bahwa memang tidak ada yang lebih layak menggantikan Rasulullah selain Shahabat Abubakar Shiddiq.

Setelah Khalifah Abubakar wafat, kepemimpinan diganti oleh Umar bin Khaththab berdasarkan surat wasiat Khalifah Abubakar karena tidak ada shahabat yang lebih mulia dan mengungguli Umar bin Khaththab ra dalam berbagai aspek dan seginya, sehingga tidak ada keberatan apa pun terhadap pengangkatan Umar walau berdasar penunjukan. Sebelum Amirul Mukminin Umar meninggal , beliau masih sempat menunjuk dewan formatur yang terdiri dari enam Shahabat senior untuk memutuskan siapa bakal pengganti beliau yaitu : Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Zubair dan Saad bin Abi Waqas. Empat orang menyatakan tidak bersedia untuk menjadi Khalifah/Amirul Mukminin, hanya Usman dan Ali yang bersedia dipilih untuk menjadi pengganti Umar.

Mengingat ada dua kandidat calon yang setara ilmu dan jasanya, setara pula dukungannya, maka anggota formatur yang dipimpin oleh Abdurrahman bin Auf pun masih minta masukan secara langsung ke masyarakat untuk turut memilih satu di antara dua calon yang ada, Abdurrahman bin Auf masih berkeliling ke masyarakat untuk dimintai tanggapannya, baik ke para shahabat senior atau yunior, laki-laki atau perempuan dsb. maka Usman sepakat dipilih sebagai khalifah ketiga. Dari sini jelas, mekanisme mengatur pemimpin menjadi hak masyarakat, bukan penunjukan dari wahyu. Ada proses seleksi, pemilihan, adu argumen, dukung-mendukung dan partisipasi masyarakat yang lebih luas, walau dalam bentuk yang belum baku seperti dalam sistem demokrasi modern.

Setelah era Khulafaurrasyidin berlalu, kekuasaan Islam jatuh ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai khalifah pertama dari Dinasti Bani Umayyah. Suka ataupun tidak suka, manis maupun pahit, kekuasaan Dinasti Umayah diawali dengan hal-hal yang tidak wajar, tipu daya dan pertumpahan darah yang mengorbankan ribuan rakyat sesama Muslim. Dalam Perang Shiffin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Muawiyah sangat kental aroma perebutan kekuasaan dari seorang gubernur yang tidak loyal kepada khalifah/pimpinanny a. Selanjutnya konflik/kemelut politik diselesaikan dengan upaya perdamaian/tahkim di antara mereka yang ternyata justru memperdaya/merugika n Khalifah Ali. Akhirnya wajah ummat dan politik Islam carut marut. Khalifah Ali dibunuh oleh mantan pengikutnya sendiri yang tidak puas dengan upaya tahkim yang tidak adil. Muncul pula kelompok sempalan yang bernama Syiah dan Khawarij yang saling bertolak belakang. Luka yang diakibatkan

oleh tindakan Muawiyah yang memerangi Khalifah Ali, kemudian menurunkan kekuasaan kepada anak dan keturunan sendiri, menimbulkan luka di tubuh ummat Islam. Bahkan hingga sampai hari ini, luka tersebut tidak pernah kering/sembuh.

Dalam buku "Distorsi Sejarah Islam" Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menukil dari tafsir Al-Manar, Syaikh Rasyid Ridho menyebutkan pernyataan seorang ilmuwan Jerman yang berkata kepada beberapa ulama Muslim, "Semestinya kami (kaum Kristen Eropa) harus membuat patung emas Muawiyah di Berlin!" Ilmuwan tersebut ditanya, "Mengapa?" Dia menjawab, "Karena dialah yang mengubah hukum Islam dari demokrasi menjadi fanatisme golongan! Kalaulah hal itu tidak terjadi, Islam pasti akan tersebar ke seluruh dunia. Sehingga bangsa Jerman dan Eropa lainnya akan berubah menjadi Arab-Muslim" . Jika kita melihat sekarang Dunia Kristen Eropa menggunakan demokrasi, sejatinya itu merupakan 'barang curian' milik ummat Islam yang telah diadopsi dan dimodifikasi menjadi sekular ala Barat. Demokrasi seolah berasal dari Barat padahal sejatinya milik kita.

Mengingat kekuasaan Dinasti Umayyah diawali dengan konflik, pertumpahan darah, tipu muslihat, sehingga dalam perjalanan kekuasaannya Dinasti Bani Umayyah selalu dirongrong oleh berbagai pemberontakan demi pemberontakan (kecuali hanya masa keemasannya di era Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat singkat yaitu 2,5th saja) . Kekuasaan Bani Umayyah tidak sepenuhnya stabil dan diterima oleh ummat Islam. Hingga akhirnya kekuasaan Dinasti Umayyah jatuh dan berakhir dengan pertumpahan darah dan pembantaian oleh pemberontak yang dipimpin oleh Abul Abbas As-Saffah (si penumpah darah). Kemenangan pemberontakan Abul Abbas menimbulkan kekuasaan dinasti baru yaitu Abbasiyah. Sayangnya kekuasaan ini diawali dengan pembantaian seluruh sisa-sisa keluarga Bani Ummayyah sehingga banyak yang lari ke daratan Eropa (Andalusia) maupun Afrika.

Dinasti Abbasiyah memulai kekuasaannya dengan pembantaian, maka diakhiri pula dengan pembantaian pula, yaitu melalui tangan-tangan orang kafir Mongol yaitu Hulaqo Khan. Di mana waktu itu ibukota Baghdad menjadi lautan darah. Sehingga masa itu menjadi masa paling kelam dari sejarah Islam karena tidak ada kekejaman yang melebihi Khulaqo Khan ketika membantai ummat Islam di Baghdad waktu itu.

Sejarah telah membuktikan bahwa kekuasaan yang diawali dengan tragedi akan diakhiri dengan tragedi pula, sebagaimana telah diperlihatkan dalam dua masa Daulah Umawiyah dan Abbasiyah. Justru munculnya Daulah Utsmaniyah di Turki, merupakan pertolongan Allah untuk mengangkat harkat dan martabat ummat Islam (khususnya dunia Arab) yang hancur berkeping-keping di Baghdad. Allah munculkan pengganti penguasa Islam dari Turki setelah ummat Islam dan Arab menanggung kekalahan dan kehinaan dari kekuasaan Dinasti Mongol (Tartar).

Mengingat sejarah telah memberikan contoh kepada kita, kekuasaan itu membutakan walaupun di masyarakat Islam sekalipun. Untuk itu kekuasaan perlu diatur, dimanage agar kekuasaan itu dibatasi, kekuasaan harus dikendalikan agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tamak dan dzalim. Sistem demokrasi juga salah satu bentuk mekanisme pengaturan kekuasaan. Tidak ada jamannya lagi kekuasaan dipegang oleh segelintir orang apalagi jika menggunakan cara-cara represif dan pemaksaan kehendak.. Sejarah Islam pun telah menunjukkan, pada masa Khulafaurrasyidin di masa Khalifah Utsman dan Ali yang kurang apa baik dan lurusnya masih saja ada pemberontakan. Apalagi di masa Bani Umayyah dan Abbasiyah, pemberontakan dan perebutan kekuasaan silih berganti.

Jadi hakekatnya sistem demokrasi lebih dekat kepada Islam dibanding sistem lainnya. Realitas sejarah telah menunjukkan, masa Khulafaurrasyidin sebagai panutan kita sangat mengedepankan musyawarah. Demokrasi paling tidak sangat dekat dengan semangat musyawarah, saling menghargai pendapat, proses seleksi dsb. Kekurangan yang ada di sistem demokrasi karena masyarakat sangat heterogen, ada yang cerdas, ada yang bodoh, ada yang taat kepada Allah namun banyak pula yang bermaksiat kepada Allah, ada yang Islamnya kaffah namun banyak pula yang sekular, ada yang jujur namun banyak pula yang berjiwa koruptor, ada yang amanah namun banyak pula yang khianat, ada yang bercita-cita ingin menegakkan syariat Allah namun banyak pula yang ingin menghalanginya. Namun bukankah itu juga merupakan tanggung jawab kita bersama (bukan hanya para politisi Muslim) untuk bersama-sama membina masyarakat agar menjadi masyarakat yang akidahnya lurus, mencintai Islam dengan sepenuh jiwa raganya sehingga cita-cita masyarakat dapat terwujud. Jadi perjuangan dakwah sangatlah luas dan berkesinambungan, ada yang melalui jalur politik, pendidikan, keluarga, budaya, ekonomi, sosial dsb.

Jangan terlalu bermimpi kalau menolak demokrasi terus keadaan akan menjadi lebih baik. Bermimpi memiliki sistem lain dan melupakan yang ada, seringkali menimbulkan kekecewaan dan frustasi. Seringkali kita bermimpi mewujudkan sistem khilafah yang ideal akan segera terwujud, padahal membentuk organisasi yang lebih kecil dan sederhana saja, seringkali kita tidak mampu.

Terkait dengan tuduhan bahwa demokrasi itu identik dengan sekular, menurut hemat penulis, itu sepenuhnya tergantung siapa yang mengendalikan. Jika yang mengatur orang-orang sekular pasti disemangati dengan jiwa sekular. Jika di tangan orang Kristen sudah pasti dijiwai dengan semangat Kristiani, begitu pula kalau ditangani orang-orang Islam, sudah pasti (seharusnya) digunakan untuk kepentingan dan kebaikan ummat Islam. Khalifah Umar mengatur pembagian kekuasaan antara umara (penguasa) dengan qadhi (hakim), mengatur tentang hak-hak rakyat, mengatur tentang harta negara (Baitul Mal), zakat, kebijakan tentang peperangan, dsb. Para ulama juga berijtihad dan merumuskan kitab-kitab fikih, padahal sudah ada Al-Quran dan Sunnah. Barangkali, hal seperti itu pula lah pada demokrasi. Wallahu'a'lam

Penulis adalah pengamat Gerakan Dakwah

Source : www.hidayatullah.com