Kamis, 10 September 2009

Pelestarian Lingkungan Menurut Perspektif Alqur’an

Oleh : Imansyah

Sungguh beruntung kaum Muslimin yang dianugerahi oleh Allah SWT sebuah pedoman hidup berupa Alqur’an yang menuntun hidupnya agar selamat dunia dan akherat. "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu." (QS. 5 : 3). Oleh karena itu aturan – aturan yang ada dalam Alqur’an mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.

Dalam Islam, manusia mempunyai peranan penting dalam menjaga kelestarian alam (lingkungan hidup). Islam merupakan agama yang memandang lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seseorang terhadap Tuhannya, manifestasi dari keimanan seseorang dapat dilihat dari perilaku manusia, sebahai khalifah terhadap lingkungannya. Islam mempunyai konsep yang sangat detail terkait pemeliharaan dan kelestarian alam (lingkungan hidup).

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi. Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Khalik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan. Allah berfirman yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30).

Allah berfirman yang artinya: ”Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al an’am 165).
Dalam konsep khilafah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.

Manusia mempunyai hak (diperbolehkan) untuk memanfaatkan apa yang ada di muka bumi (sumber daya alam) dengan tidak melampaui batas atau berlebihan. Dalam surat Al-An’am ayat 141-142 Allah berfirman yang artinya: “Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al an’am: 141)”.
“Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al an’am 142). Kita diperbolehkan untuk memanfaatkan semua sumber daya yang ada di alam semesta ini dengan bijak atau dalam taraf yang tidak melampaui batas. Sehingga eksploitasi yang dilakukan tidak mengakibatkan langka dan punahnya spisies-spisies tertentu. Pemanfaatannya tidak mengganggu keseimbangan alam dan menimbulkan kerusakan alam.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia memiliki kewajiban melestarikan alam semesta dan lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya. Agar hidup di dunia menjadi makmur sejahtera penuh keberkahan dan menjadi bekal di hari akhir kelak. Manusia diberi amanah untuk membuat kebaikan di muka bumi. Tanggung jawab mengelola dunia sama pentingnya dengan akherat. Hal ini secara langsung diungkapkan oleh Allah dalam salah satu firmanNya dalam surat Al a’raf ayat 56 yang kurang lebihnya berbunyi; “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Selain itu Allah juga berfirman dalam surat Ar ruum ayat 41 yang artinya; “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ayat ini mengingatkan manusia bahwa kerusakan muka bumi, baik di laut maupun darat, merupakan akibat ulah tangan manusia. Kerusakan di muka bumi tersebut dapat ditafsirkan berupa kerusakan moral manusia dan kerusakan fisik sebagai akibat kerakusan dan keserakahan manusia. Sedangkan tangan manusia dapat dimaknai secara harfiah sebagai tangan biasa seperti kasus kemiskinan yang mengakibatkan rusaknya lingkungan pada tingkat lokal atau yang lebih ekstrim lagi adalah tangan sebagai kekuasaan yang rakus dan zalim dapat merusak lingkungan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu. Jadi memang tak dapat dipisahkan rentetan kerusakan, mulai kerusakan moral hingga kerusakan fisik lingkungan.
Ayat – ayat Alqur’an yang telah kita bahas diatas sebelumnya menuntut konsekwensi logis yaitu menuntut perlunya kesatuan pikiran, sikap dan perbuatan dalam posisi manusia sebagai khalifah, artinya amaliah manusia duniawi dan ukhrowi sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan .

Dan yang tak kalah pentingnya adalah untuk menekankan ”Kesolehan Lingkungan ”, bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan bentuk ibadah dan perwujudan syukur kepada Sang Khalik. .”Apabila engkau bersyukur maka akan kutambahkan nikmatKu tapi apabila engkau ingkar, maka ingatlah sesungguhnya azabKu amat pedih.” Tidak satu pun diantara kita dapat menghitung berapa nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada kita. ”Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (QS. Ibrahim :34).”Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.” (QS. Lukman :20).”Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?”(QS. Ar-Rahman:13).
Peradaban manusia cenderung menempatkan manusia sebagai porosnya ( antroposentris) hingga seringkali berakibat pada pemberhalaan hawa nafsu dalam memenuhi keinginannya yang pada gilirannya dapat meninmbulkan kerusakan lingkungan. Maka manusia perlu melihat kembali kedudukan dan martabatnya sebagai khalifatullah fil ardh. Kesadaran manusia dalam perannya sebagai khalifah yang telah ditunjuk oleh Allah di muka bumi seyogyanyalah menjadikannya bertindak arif dan bijaksana dalam mengelola kekayaan alam dan bumi sehingga terhindar dari kerusakan. Dan kelestarian bumi dan lingkungan hidup tetap terjaga. ( Penulis merupakan staf Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak ).

Jumat, 24 Juli 2009

Temuan Ilmiah Modern: Amal Baik Membahagiakan

Oleh: Syaefudin

Para ilmuwan dari Universitas Rochester, Amerika Serikat, telah meneliti 147 orang alumni dari dua perguruan tinggi. Para mantan mahasiswa itu dinilai segi kepuasan hidup mereka, harga diri, perasaan khawatir, tanda-tanda adanya perasaan terkekan (stres) pada raga, serta pengalaman kejiwaan yang baik dan buruk. Penelitian dilakukan dua kali, yakni tahun pertama dan kedua setelah kelulusan.

Penelitian yang dilakukan Christopher Niemic, Richard Ryan, dan Edward Deci ini mengelompokan pertanyaan menjadi dua bagian. Pertama, yang berhubungan dengan persahabatan yang erat dan langgeng, serta sikap menolong memperbaiki hidup orang lain. Bagian ini disebut aspirasi intrinsik, atau cita-cita yang bersumber dari dalam diri. Pengelompokan kedua berkaitan dengan keinginan menjadi seorang yang kaya dan mendapatkan pujian. Bagian terakhir ini digolongkan ke dalam aspirasi ekstrinsik, yakni cita-cita yang bersumber dari luar. Para peserta diminta menilai kedua jenis cita-cita tersebut. Mereka juga melaporkan sejauh mana mereka telah meraih tujuan itu.

Apa kata peneliti?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cita-cita intrinsik lebih membuat orang bahagia daripada ekstrinsik. Dengan mencapai tujuan intrinsik, mereka telah memenuhi kebutuhan dasar kejiwaan. “Cita-cita intrinsik kelihatan lebih dekat hubungannya dengan diri seseorang, lebih pada apa yang ada dalam diri, daripada apa yang ada di luar diri”, jelas Christopher Niezmic.

Berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kekayaan dan sanjungan di satu sisi tak banyak membawa kebahagiaan. Sikap tersebut membuat diri merasa selalu kekurangan. Meski dipandang sebagai prestasi, pencapaian tujuan ekstrinsik seperti harta, pujian, dan ketenaran belum cukup memuaskan hati. Bahkan, usaha menggapai ‘kenikmatan duniawi’ ini dapat menimbulkan rasa malu, marah, gelisah, sampai gangguan raga seperti sakit kepala, sakit perut, dan kehilangan tenaga.

“Meskipun kebudayaan kita menaruh penekanan kuat pada pencapaian kekayaan dan ketenaran, mengejar tujuan-tujuan ini tidaklah bersumbangsih pada diraihnya kepuasan hidup. Hal-hal yang dapat membuat hidup Anda bahagia adalah berkembangnya pribadi, memiliki hubungan kasih sayang, serta memberi manfaat bagi masyarakat Anda”, saran Prof. Edward Deci.


Sebagai contoh, Chelsea McGuire, penerima beasiswa Fulbright. Calon dokter ini akan menghabiskan setahun di Republik Dominika untuk membantu menanggulangi penyebaran penyakit HIV, sebelum ia masuk Sekolah Kedokteran. Ia ingin menjadikan pelayanan kesehatan, yang ia pandang sebagai ‘kebutuhan pokok sebelum segala lainnya’, semakin besar dirasakan manfaatnya dan terjangkau. “Itu bukan pekerjaan yang memesonakan, terutama dalam hal berlimpahnya ketenaran dan harta. Namun itulah yang saya pikir dapat membuat saya lebih bahagia daripada selainnya”, katanya

Ashley Anderson, Presiden organisasi kampus Black Students’ Union yang sekaligus penari handal berharap dapat menyediakan kesempatan pendidikan bagi semua, tanpa menghiraukan ‘syarat khusus’ atau cap lainnya. Dia berpikir dengan menjadi cerdas dan punya perencanaan ke depan, keuangannya akan terjamin tanpa perlu menjadi materialistis. “Saya orang beriman,” katanya. “Tidak ada jumlah uang yang mampu menyamai apa yang Tuhan dapat berikan kepada saya dan apa yang dapat saya berikan kepada orang lain”.

Senada dengan dua orang sebelumnya, seorang calon analis industri pelayanan kesehatan, Asher Persigian, berkata, “tanpa orang-orang… untuk berbagi hidup dengan Anda, saya sungguh melihat tak ada gunanya”. Ketika mendapatkan beberapa tawaran pekerjaan, ia mengambil tawaran bekerja yang di dekat tempat asalnya dan dekat keluarganya bermukim.

Kunci bahagia

Demikianlah hasil penelitian terbaru tentang kekayaan, kemasyhuran, dan sanjungan. Ternyata, cita-cita hidup semacam itu tidaklah cukup membahagiakan.

Pencapaian tujuan hidup intrinsik berdampak baik bagi kesehatan jiwa. Sedangkan pencapaian cita-cita ekstrinsik merupakan pertanda terjangkiti penyakit kejiwaan atau adanya ketidakbahagiaan. Cita-cita intrinsik yang berupa hubungan antar-manusia yang dilandasi cinta kasih dan kepedulian, serta dimilikinya keahlian dan keterampilan melalui perjuangan berat, memiliki manfaat yang terasa langgeng. Sebaliknya, cita-cita ekstrinsik berupa menumpuk harta dan pujian, dirasakan cepat memudar dan segera terlupakan.

Terdapat sejumlah keuntungan lain bagi mereka yang memiliki tujuan hidup intrinsik, yakni yang menaruh perhatian pada berkembangnya pribadi, eratnya hubungan antar-manusia, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, dan kesehatan raga. Mereka ini lebih merasakan adanya kesejahteraan, prasangka baik terhadap diri mereka sendiri, pertalian yang lebih erat dengan sesama, dan lebih sedikit memiliki tanda-tanda stres pada tubuh mereka.

Utamakan amal baik

Hasil ini membuktikan betapa rapuh tujuan sebagian orang yang telah dilalaikan dunia. Mereka berpacu menumpuk harta dan mengharap pujian. Ada yang yang ikut kontes bintang agar cepat terkenal. Sebagian bermain lotere, berjudi, bahkan ada yang ke dukun minta jimat penglaris barang dagangan sehingga cepat menjadi jutawan. Seakan-akan, hanya itulah tujuan hidup di bumi, yang ternyata terbukti secara ilmiah tidak membawa kebahagiaan hidup.

Dunia dan isinya bukanlah sesuatu yang kekal. Manusia hendaknya lebih mengutamakan amal baik. Karena, inilah yang telah terbukti secara ilmiah dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup, sebagaimana pula diperintahkan Pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al Kahfi 18: 45-46).

Referensi:

1). Edward Deci, Christopher Niemic, Richard Ryan (2009). Achieving Fame, Wealth, and Beauty are Psychological Dead Ends, Study Says. Rochester.edu. May 14, 2009. (http://www.rochester.edu/news/show.php?id=3377, terkunjungi pada 20 Juni 2009)

2). Edward Deci, Christopher Niemic, Richard Ryan (2009). The Path Taken: Consequences of Attaining Intrinsic and Extrinsic Aspirations in Post-college Life. Journal of Research in Personality. Vol 43 (3):291-306.

3). Joyce Gramza (2009). Money vs Happiness. ScienCentral.com, May 13, 2009. http://www.sciencentral.com/video/2009/05/13/money-vs-happiness, terkunjungi pada 28 Juni 2009).

Source : www.hidayatullah.com

Rupa Guna Air Seni Manusia

Oleh: Syaefudin*

Air seni, air kencing, atau urin adalah nama yang semakna. Ia merupakan cairan sisa reaksi biokimiawi rumit yang terjadi di dalam tubuh. Meski zat buangan, urin manusia masih mengandung bahan kimia seperti nitrogen, fosfor, dan potasium. Bila menumpuk dan tidak dikeluarkan, maka akan menjadi racun yang malah membahayakan tubuh.

Sebanyak 70% bahan makanan (nutrisi) yang dikonsumsi manusia dikeluarkan dalam bentuk air seni. Dalam setahun, seseorang dapat mengeluarkan air kencing kira-kira sebesar 500 liter. Jumlah ini setara dengan 4 kg nitrogen, 0.5 kg fosfor, dan 1 kg potasium. Ketiganya termasuk unsur penting dalam pertumbuhan tanaman.

Pupuk Urin

Walaupun terkadang berbau menyengat, air kencing ternyata membawa manfaat. Contoh penggunaan urin yang kini tengah berkembang adalah sebagai pupuk tanaman. Di beberapa negara, pupuk urin merupakan bagian dari program pemanfaatan limbah yang disebut Ecosan.

Ecological Sanitation (Ecosan) diilhami oleh banyaknya permasalahan lingkungan, terutama yang berkaitan dengan limbah rumah tangga seperti kotoran manusia. Dahulu, sebagian menganggap limbah tersebut tak berguna sehingga sering dibuang begitu saja. Namun, sebenarnya kotoran tersebut dapat diolah sedemikian rupa sehingga lebih berdaya guna. Di samping mampu menjaga kesuburan tanah, teknologi ini juga dapat membantu mewujudkan ketahanan pangan.

Sejumlah negara sudah mulai menggalakkan program daur ulang limbah manusia ini. Sebut saja Cina, Zimbabwe, Meksiko, India, dan Uganda. Bahkan, beberapa negara Eropa juga turut serta dalam program ini, misalnya Jerman dan Swedia.

Menurut Ian Caldwell dan Arno Rosemarin dari Stockholm Environment Institute, Swedia, penggunaan urin dan kotoran manusia sebagai pupuk adalah cara utama dalam menerapkan pertanian berkelanjutan. Lebih jauh lagi, hal tersebut dapat membantu tercapainya ketahanan pangan dan mendukung tersedianya nutrisi yang lebih baik.

Sementara itu, penelitian air seni manusia sebagai pupuk juga telah dilakukan oleh MnKeni bersama teman-temannya dari Universitas Fort Hare, Afrika Selatan. Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan urin sebagai sumber nitrogen sebanding dengan pupuk urea. Kendati demikian, hasil ini bergantung pada kepekaan tanaman yang dipanen terhadap kadar garam (salinitas) lahan tempat bercocok tanam. Oleh karenanya, perlu pengawasan dalam penggunaan pupuk air seni ini.

Banyak Kelebihan

Pupuk urin memiliki banyak keunggulan, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Dalam lingkungan, penggunaan pupuk ini memperbaiki penanganan kesehatan masyarakat. Penggunaan pupuk air seni juga mampu meningkatkan hasil panen sehingga taraf hidup masyarakat membaik. Dengan kata lain, air kencing dapat menurunkan angka kemiskinan.

Salah satu masalah yang dikhawatirkan dari pemanfaatan pupuk jenis ini adalah rasa produk tanamannya. Logikanya, penggunaan air seni sebagai pupuk berkemungkinan mempengaruhi mutu hasil tanaman. Namun, permasalahan ini ditepis oleh penelitian Surendra K. Pradhan dan rekannya dari Universitas Kuopio, Finlandia.

Mereka membandingkan penggunaan air kencing manusia sebagai pupuk kubis dengan pupuk buatan industri. Hasilnya, kemampuan pupuk urin sama dengan pupuk buatan industri pada dosis 180 kg N/ha.

Bahkan pertumbuhan, biomassa, dan kandungan klorida tanaman sedikit lebih tinggi jika menggunakan pupuk air seni. Serangga yang biasanya ikut mati akibat penggunaan pupuk industri juga berkurang dengan menggunakan pupuk alami ini.

Penelitian ilmuwan ini membuktikan bahwa air seni manusia dapat digunakan sebagai pupuk tanpa mengancam nilai kehigienisan tanaman yang berarti. Selain itu, rasa produk makanannya juga tak berkurang meski tanaman yang menjadi bahan bakunya diberi pupuk urin.

Lidah Pengecap Air Seni

Keberadaan air kencing manusia yang banyak mengandung zat sisa reaksi biokimiawi tubuh tak hanya dimanfaatkan sebagai pupuk. Cairan berbau ini juga mendorong peneliti untuk menciptakan lidah elektronik. Lidah yang terdiri atas bermacam sensor kimia potensiometrik tersebut digunakan sebagai pendeteksi kegagalan fungsi sistem urin dan kadar kreatinin.

Kreatinin adalah hasil pemecahan kreatinin fosfat di dalam otot. Senyawa ini normal ada dalam urin, yakni sebesar 0.5-1 mg untuk perempuan, dan 0.7-1.2 mg untuk laki-laki. Namun, jumlah yang berlebih menandakan ada kerusakan dalam ginjal.

Di samping dapat mengelompokkan contoh urin yang diteliti, lidah buatan juga mampu membedakan contoh urin orang sehat dengan yang mempunyai penyakit tumor kandung kemih. Dengan data analisis urin yang dihasilkan mungkin bisa mengetahui jenis tumornya, baik yang ganas maupun tidak ganas.

Tanda Kebesaran Allah

Air kencing manusia, ternyata bukan sekedar cairan tak berguna. Sederet manfaat dimiliki oleh cairan tersebut. Inilah satu lagi bukti kebesaran Allah. Sungguh, tiada yang sia-sia segala apa yang telah diciptakan-Nya tak terkecuali air seni.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya manusia bersyukur atas apa yang Allah berikan. Sejatinya, hanya Dialah yang mampu menjadikan barang hina seperti urin manusia, dapat berfungsi laksana pupuk dan pendeteksi penyakit. Ini karena Allah adalah satu-satunya Tuhan yang memiliki sifat Maha Pencipta dan Maha Mengetahui, sebagaimana firmanNya: ”Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Hijr 15:86) (Syaefudin/www.hidayatullah.com)

Ilustrasi :http://wikimediafoundation.org

Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.


Senin, 27 April 2009

Tertawa Bantu Atasi Diabet

Tertawa dapat membantu penderita diabetes meningkatkan kadar kolesterol, demikian hasil satu studi terbaru.

Menurut Lee Berk dari Loma Linda University, yang memimpin studi itu,pilihan gaya hidup memiliki dampak mencolok dalam kesehatan dan penyakit, dan ini semua adalah pilihan yang ia dan pasien lakukan sebagai tindakan pencegahan dan pengobatan.

Para peneliti membagi 20 pasien diabetes yang beresiko tinggi --semuanya juga menderita darah tinggi dan hyperlipidemia (faktor resiko bagi penyakit pembuluh darah dan jantung)-- menjadi dua kelompok. Kedua kelompok tersebut diberikan obat diabetes standar.

Kelompok L diberi waktu 30 menit untuk menikmati humor yang mereka pilih, sementara Kelompok C --kelompok pemantau-- tidak. Proses itu berlangsung selama satu tahun pengobatan.

Sekitar dua bulan proses pengobatan, semua pasien di kelompok tertawa (Kelompok L) memiliki tingkat hormon epinephrine dan norepinephrine yang lebih rendah, keduanya dipandang sebagai penyebab stres. Stres diketahui sangat mematikan.

Setelah 12 bulan, kolesterol HDL (kolesterol baik) telah naik 26 persen pada Kelompok L, tapi hanya 3 persen di dalam Kelompok C.

Dalam pengukuran lain, protein C-reaktif, penanda radang dan penyakit pembuluh darah, serta jantung, turun 66 persen di dalam kelompok tertawa tapi hanya 26 persen pada kelompok pemantau.

"Dokter terbaik mengerti bahwa ada campur-tangan psikologis hakiki yang ditimbulkan oleh emosi positif, seperti gelak tawa dengan riang-gembira, optimisme, dan harapan," kata Berk.

Kendati demikian, Berk mengatakan, tawa tentu saja dapat menjadi obat yang bagus dan sama berharganya dengan obat diabetes, tapi ia bersikeras bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan guna memastikan apa maksud dari semua hasil itu. [ant/www.hidayatullah.com]



Minggu, 26 April 2009

Melihat Partai Demokrat… Partainya SBY !

oleh : Imansyah

Perolehan suara Partai Demokrat pada PEMILU kali ini benar - benar mencengangkan para pesaingnya. Meningkat sekitar 300 % dari PEMILU sebelumnya tahun 2004. Timbul pertanyaan apakah memang benar bahwa Partai Demokrat telah menjelma menjadi sebuah partai besar dalam peta perpolitikan di tanah air tercinta ini atau ada fenomena yang lain.

Diakui atau tidak, sebenarnya struktur Partai Demokrat belumlah begitu kokoh seperti Partai Golkar atau PDI P dan kader - kader yang ada belumlah semilitan kader - kader yang lain seperti PDI P atau PKS. Lalu apa yang menjadi sebab sebagian besar pemilih pada PEMILU 9 April kemarin menjatuhkan pilihannya pada Demokrat ?

FaKtor SBY adalah jawabannya. Figur SBY yang santun, dengan bahasa tubuh yang enak dilihat merupakan kunci kemenangan Partai Demokrat. Belum lagi peluncuran BLT menjelang Pemilu menambah daya tarik tersendiri khususnya bagi ” wong cilik” untuk menjatuhkan pilihan bagi Partai Demokrat.

Klaim keberhasilan pembangunan, BLT, PNPM Mandiri, iklan sekolah gratis, dll yang begitu gencar di layar kaca menambah keyakinan rakyat bahwa pembangunan di bawah kepemimpinan SBY yang otomatis adalah iconnya Partai Demokrat harus di ” Lanjutkan”. Namun harus diingat pula bahwa sesungguhnya pemerintahan SBY gagal mengurangi angka kemiskinan ditengah2 klaim keberhasilan yang digembor2kan. Ini merupakan hutang dan tantangan SBY serta Partai Demokrat untuk 5 tahun ke depan.

Dibeberapa tempat yang dimenangkan oleh Partai Demokrat para pemilih yang ditanya mengapa memilih Demokrat ? Jawabnya karna SBY, bukan karena memiliki visi misi yang bagus atau karena ideologi partai atau karena kerja keras dari kader2nya. Buktinya banyak yang memilih lambang partai dibandingkan dengan caleg2nya karena sebagian besar memang tidakdikenal masyarakat. Masyarakat tahunya bahwa Partai Demokrai itu adalah Partainya SBY seperti iklan yang sering tampil di media massa baik cetak maupun elektronok. Bisa jadi SBY sendiri jauh lebih besar dari Partai Demokrat.

Apalagi pemilih Partai Demokrat sebagian besar dapat dikategorikan sebagai pemilih “indekos” yang bisa jadi akan berpindah ke partai lain pada Pemilu yang akan datang. Berbeda dengan partai lain semacam Partai Keadilan Sejahtera yang diikat oleh ideologi partai tanpa menonjolkan tokoh. Bagaimana pada tahun 2014 nanti ? Setelah SBY tidak bisa lagi dicalonkan sebagai capres, anggaplah SBY dapat memenangkan Pilpres tahun 2009 ini. Sudah siapkan Partai Demokrat ? Bisa2 Partai Demokrat akan bangkrut ditinggalkan pemilihnya. Kita lihat saja nanti .

Okey, Selamat berjuang Partai Demokrat dan Pak SBY…… “Lanjutkan !” Salam Blogger !

http://www.facebook.com/ext/share.php?sid=91668950241&h=VzMNE&u=1QqVo&ref=mf

Mencermati Masalah DPT

oleh : Imansyah

Carut marutnya masalah DPT pada Pemilu legislatif 9 April kemarin, diakui suka atau tidak suka telah mengurangi kwalitas pesta demokrasi di negara kita tercinta ini. Menganggap persoalan DPT hanya kesalahan administratif belaka merupakan tindakan yang terlampau menyederhanakan suatu masalah.

Masalah DPT bukan hanya masalah administratif belaka, bahkan lebih jauh dari itu. Banyaknya warga negara yang tidak bisa memilih dikarenakan kacaunya DPT merupakan masalah yang serius. Hak politik warga negara yang dijamin oleh Undang - Undang terampas karena kacaunya DPT.

Siapa yang harus bertanggung jawab ? KPU sebagai penyelenggara Pemilu merupakan pihak yang paling bertanggung jawab, kemudian pemerintah lewat Depdagri . Sudah berapa kali presiden di jaman reformasi ini tapi masalah administrasi kependudukan masih kacau balau, sudah berapa besar biaya dikucurkan namun administrasi kependudukan yang handal masih belum bisa diwujudkan.

Tapi sampai hari ini, KPU atau Pemerintah belum sekalipun meminta maaf kepada rakyat yang terampas hak - hak politiknya karena kacaunya DPT ini.

Belum lagi beberapa partai politik coba bermain, mempermasalahkan keabsahan Pemilu ini karena kacaunya DPT . Semakin menambah ruwet, dan semakin tambah menjemukan.

Semoga masalah DPT ini takkan terulang lagi pada Pemilu Pilpres bulan Juli nanti.

http://www.facebook.com/ext/share.php?sid=75953227565&h=qe6OO&u=sz7Ee&ref=mf


Minggu, 05 April 2009

Wajah Sebuah Negeri

oleh Anazkia

Inilah wajah sebuah negeri
Negeri kelahiranku, negeri tercinta
Negeri Indonesia

Yang tiap harinya ada kelaparan
Yang tiap harinya ada kemiskinan
Yang tiap harinya ada penganiayaan
Yang tiap harinya ada pembunuhan Bahkan,
Yang tiap harinya ada korupsi
Yang tiap harinya penipuan terjadi di seluruh pelosok negeri

Dari tukang kuli, sampai orang yang berdasi
Di manakah keberkahan sebuah negeri...???

Awal mendapatkan kartu nama ini, aku sempat juga membuat puisi. Entahlah… Ko rasanya lucu dan cukup menyakitkan saat aku mendapatkannya. Bahkan, saat pertama kali aku mengenal dengan orang ini. Namanya cukup singkat, “Enjen” hanya lima huruf khas nama Sunda. Bekerja di Syarikat Rent car, tour and travel di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Berawal dari kepulanganku ke Indonesia setelah merantau di Negeri orang. Sebelum pulang, sebetulnya aku sudah cukup khawatir dan takut mengenai pemerasan di Bandara Soekarno-Hatta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Dalam ketakutan dan kekhawatiran, akhirnya di beli juga tiket pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

Pun ketika aku bertanya kepada orang-orang yang telah pulang melewatinya. Mereka banyak yang mengaku kecewa dengan birokrasi yang ada di sana. Dalam kebimbangan dan keragu-raguan akhirnya aku pulang juga ke Negeri kelahiran Indonesia. Negeri yang selama dua tahun aku tidak menjenguknya, Negri yang selama aku merantau hanya aku dengar ceritanya. Berbagai nasihat dan petua sudah aku daptkan, termasuk nasihat dari seorang isteri pekerja ekspatriat.

Akhirnya, selamatlah aku mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Masih dalam ketakutan, jantung berdetak melebihi biasanya. Aku berusaha serileks mungkin. Dengan gaya baju yang seolah-olah seperti pelajar, Nyatanya, aku tetaplah Pahlawan Devisa yang pintu laluannya sudah di sediakan. Terpampang tulisan besar setelah keluar dari pintu imigrasi, “SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA.” Sedikit bangga dengan tulisan itu meskipun dalam hati kadang lucu juga, Pahlawan Devisa tak ubahnya seperti Pahlawan Tanda Jasa. Mereka jarang atau bahkan tidaak begitu di hiraukan.

Semuanya berjalan lancar, passport sudah di periksa. Aku berjalan ke arah kanan untuk menuju pintu 3 khusus untuk tenaga kerja yang baru pulang. Kemudia di hantar dengan Bis menuju ke daerah dan kota asal masing-masing. Disinilah semuanya bermula, katanya, sewaktu mendaftar bayar tergantung kepada daerah mana mereka akan tuju. Yang lebih menyedihkan ternyata, setelah mereka sampai di tempat tujuan sopir travel meminta lagi bayaran lebih. Ini tidak hanya menimpa para pekerja rumah tangga, para pekerja Pabrik pun mengalaminya. Dan lagi, para pekerja tidak boleh di jemput oleh keluarganya

Dan malangnya, kaka ipar aku sudah menunggu di luar. Dalam berpikir, ada seorang petugas yang mendekati aku dan mengajaknya berbincang. Petugas ini pake seragam dan aku yakin, dia memang pekerja di Bandara Soekarno-Hatta dan bukan oknum yang seperti aku gambarkan. Dari bebeapa dialog, aku ambil kesimpulan memang keluarga tidak boleh menjemput. Tapi anehnya, dia memanggil seorang lagi yang gayanya kaya Pak Polisi tapi berpakaian biasa.

Di kenalkannyalah aku dengannya. Ngobrol sebentar, terus orang itu meminta nomor hp kakaku. Kalau aku rasa, ini adalah sebuah sindiket, terorganisir dan banyak orang di dalamnya. Terbukti, sudah ada orang lain yang menghubungi kakaku. Aku pun dah syak, kalau mereka akan meminta uang kepada kakaku. Lama aku menunggu terkadang, suaraku agak meninggi ketika bercakap dengan orang oknum tadi. Yang lebih lucu, ketika dia bilang “Mbak ini cerewet amat, tujuan kita mau menyelamatkan mbak.” Aku pun dengan ketus menukas, “Mau menyelamatkan atau menghanyutkan mas…?” Mendengar kata-kataku oknum itu sepertinya terkejut dan aku yakin dia marah. Aku sich, cuek aja.

Lama menunggu, akhirnya tibalah aku keluar dari Bandara tanpa melewati pintu 3. Tapi melewati pintu 2 seperti penumpang yang lainnya bukan melewati pintu para TKI dan ini aku harus bayar mahal. Sebelum beredar, oknum tadi mengingatkan, supaya aku jalan lurus saja dan oknum tadi berada jauh di depanku. Aku semakin syak, ini pasti lewat gak bener bertambahlah kekhawatiran aku. Sebelum beredar dari situ, seorang berseragam biru mencegat oknum tadi, membisikan sesuatu. Terjadi negosiasi akhrinya, oknum tadi mengeluarkan dompetnya dan selembar uang di hulurka kepada orang berseragam biru.

Aku berjalan dengan perasaan takut dan was-was. Oknum tadi berjalan jauh di depan. Tiba-tiba seorang berseragam biru mencegatku. Wah tambah deg-degan aku. Dari jauh, oknum tadi memberi isyarat kepada orang berseragam biru. Kemudian, dibiarkannya aku berlalu tanpa sembarang pertanyaan dan pemeriksaan. Sebelum keluar dari situ, ada dua orang yang menjemput ku untuk membawaku ke atas. Dan di depan lift kakaku sudah menunggu. Di bawanya aku terburu-buru. Sebelum menaiki taksi, terjadi lagi adegan salaman yang meberi arti, aku rasa mereka memberikan uang. AKu lihat tukang sapu di Bandara, sepertinya dia sudah faham dengan apa yang berlaku.

Naiklah aku bersama dengan kakaku ke taksi. Sebauh taksi Bandara, cantik mobilnya APV. Tidak lama kemudian taksi pun jalan, di sebelah sopir duduk seorang lagi yang aku tidak kenal. Setelah lama berjalan, nyatanya kita hanya di ajak keliling Bandara. Kemudian balik lagi ke tempat semula. Ah, sungguh ironis! Ternyata mereka bekerja sama untuk mengaut uang para TKI yang baru pulang.

Kita saling bertekak, aku marah. Yang herannya, kaka ipar aku nih nyantai aja. Dia nih emang low profile abis. Kalau mau keluar dari Bandara ini, kita harus bayar Rp.250.000. Waduh, pelik bin ajaib asli mahal banget fikir aku. Aku tanya ke kakaku, berapa tadi dia kasih uang ke oknum tadi. Nyatanya, sudah Rp.700.000 dia berikan kepada oknum tadi. Aku semakin kesal. Untuk meluahkan kekesalan aku, aku pun bertepuk tangan dan berkata, “Horeee….. Aku kena tipu…” Tak ayal, mereka semakin marah agaknya. Dari pada ribut, akhirnya aku putusin, “dah Pak, anterin kita ke Kalideres.”

Akhirnya berjalanlah taksi menuju ke Kalideres. Orang yang duduk di sebelah sopir tadi turun. Masih dengan nada suara yang tinggi dan aku rasa dia marah, Pak sopir bercerita kalau dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu bawa saja. Dalam hati, “gue kaga percaya tuh…” Tapi, aku menenangkan diri, mencoba bersabar, siapa tahu dari sini aku bisa korek, kemana aja duit aku tadi…???

Lama kelamaan, Pak sopir itu bersikap biasa. Aku dan kakaku pun ngobrol seperti biasa. Tidak adalagi nada marah dan kecewa. Akhirnya, aku mempunyai celah untuk bertanya tentang cerita di Bandara.
“Pak, aku ikhlasin gak yah uang aku yang tadi?”
“Yah, saya mah gak tahu. Itu mah tergantung eneng.”
“Uang yang tadi itu, kemana aja yah pak…???”
“Yah buat mereka-mereka lah neng. Kalau di ikutkan, tiap orang gak dapet banyak. Karena di bagi banyak orang.” Wah, satu ilmu nih, dalam hati aku. Ternyata ini kerja orang-orang yang gak bertanggung jawab. Memeras duit orang, tanpa memeras keringfat sendiri. Hanya memeras otak, gimana caranya nipu orang. Walah… Moga aja yang mereka makan mendapat keberkahan dari Allah.
“Neng, kalau TKI pulang memang gak bisa di jemput. Meskipun eneng punya kenalan orang dalam aturannya tetap begitu. Sejak keputusan Presidan melarang anggota keluarga menjemput TKI.” Pak Sopir berusaha menjelaskan. “Tadi neng di minta berapa?”
“Tujuh ratus ribu Pak…”
“Itu di kira murah neng, kadang ada lebih mahal.” Ujarnya. Aih, kasihan amat yah nasib Pahlawan Devisa nih…

Mobil terus berjalan menerobos kesesakan lalu lintas. Meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta yang mengoreskan sedikit luka di hati kecilku. Ah, kenapa setelah di Negeri sendiri aku justeru harus di tipu?. Kenapa di saat memasuki Negara sendiri aku harus mengeluarkan beribu-ribu. Duhai Allah, inilah wajah bangsaku…??? Di mana wajah dan gambaran sebuah negeri yang loh jinawi..??? di mana cerita nenek moyang kita yang sopan antun dan menghargai…??? Negeriku sudah berwarna-warni. Dicampuri tidak hanya oleh asap polutan dan kekotoran tapi di warnai juga oleh sifat dan kekotoran manusianya. Wahai Allah… adakah keberkahan di Negeri ini…???

Berbagai soalan bermunculan di benakku. Pak Sopir masih bercerita, katanya pernah juga ada TKW dari Lampung yang menangis sampai terguling-guling di Bandara. Entahlah… aku pun heran dengan para oknum. Mungkin, mereka menyangka para TKW yang baru pulang itu banyak uangnya. Hakikatnya, tidak seperti itu. Ada yang pulang dengan hanya membawa uang beberapa juta saja. Uang mereka sudah di kirimkan tiap bulannya.
Di tengah-tengah perjalanan Pak Sopir menghulurkan kartu namanya. Aku terima aja. Aku simpan, siapa tahu aku ke Bandara lagi. Kalideres semakin dekat, kami pun semakin akrab dengan Pak Sopir. Tapi, kami meminta di turunkan di Kebon Nanas.

Sampailah kami di Kebon nanas. Pak Sopir menepikan mobilnya. Aku memberikan sekeping coklat Cadbury kepada kakaku, untuk Pak Sopir. Kakaku menghulurkannya ke depan. Pak Sopir begitu berterimakasih. Sementara kakaku turun mencari bis, Aku menunggu di dalam mobil. Selesai parkir Pak Sopir berucap,
“Neng, jangan nyangka Bapak nipu yah. Bapak juga nyari uang untuk keluarga. Bapak mah kerja aja. Gak tahu apa.” Ujarnya. Aku tidak menyangka Pak Sopir akan berkata demikian.
“Iya pak, saya faham.” Sedih dan terharu mendengar kata-katanya. Kalaulah birokrasi di Negara kita berjalan dengan sempurna, tentunya tidak adalagi keragu-raguan dalam bekerja. Aku rasa, Pak Sopir mungkin tidak enak hati dengan apa yang berlaku. Dan aku yakin, dia orang yang baik.

Bis jurusan Merak sudah datang. Aku pun turun dari mobil tak lupa ucapan maaf dan terimakasih aku ucapkan kepada Pak Sopir. Kakaku bersalam dengan Pak Sopir. Kami pun menaiki Bis jurusan Merak. Teringat kata pakar motivasi favoritku, “orang jahat, tidak akan berbuat jahat kepada orang jahat, tentunya dia akan mencari orang baik sebagai korbannya.” Alhamdulilah, Terimakasih Ya Allah… Engkau telah selamatkan aku. Sesungguhnya, dari Engkaulah datangnya semua kebaikan. Dan segala keburukan itu datangnya dari aku, manusia yang lemah.

Source : http://www.eramuslim.com/oase-iman/wajah-sebuah-negeri.htm