Senin, 11 Januari 2010

AWAS BAHAYA SAMPAH PLASTIK !

Rasa – rasanya tak ada diantara kita yang tak menggunakan plastik. Dari alat yang sederhana seperti tas kresek, kantong makanan dan minuman, alat – alat rumah tangga, elektronik, peralatan kantor sampai dengan peralatan untuk produk berteknologi tinggi seperti komputer, pesawat terbang dan lainnya. Akibatnya sampah plastik pun semakin melimpah.

Dampak plastik terhadap lingkungan ternyata sangat signifikan. Plastik yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Menurut para ahli untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang.

Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.

Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui. Semakin banyak penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut.

Fakta tentang bahan pembuat plastik, (umumnya polimer polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Serta kantong plastik yang sulit untuk diurai oleh tanah hingga membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun. Akan memberikan akibat antara lain: Pertama, tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah. Kedua ,racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing. Ketiga, PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan. Keempat, kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah. Kelima, menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu meyuburkan tanah. Keenam, kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun. Ketujuh, hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik. Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya. Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya. Ketujuh, pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir.

Sebagai tambahan pemahaman, penulis beberkan beberapa fakta yang berkaitan dengan sampah plastik dan lingkungan yang didapat dari berbagai sumber. Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pacific. Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik. Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat 46,000 sampah plastik mengambang di lautan. Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya. Banyak penyu di kepulauan seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.

Untuk menanggulangi sampah plastik beberapa pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang sempurna dan tidak teurainya partikel-partikel plastik dengan sempurna justru menyebabkannya menjadi dioksin di udara. Dan bila manusia menghirup dioksin ini manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kita memang tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi yang paling memungkinkan adalah dengan memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), dan mendaur ulang (recycle). Terakhir, mungkin perlu regulasi dari pemerintah untuk meredam semakin meningkatnya penggunaan plastik.

MENANGANI BANJIR

Musim hujan telah tiba dan banjir pun seakan – akan telah menjadi tamu yang selalu datang pada daerah – daerah yang telah menjadi langganan banjir. Ironisnya, daerah yang sebelumnya tidak pernah terkena , kini harus pasrah diterjang luapan air.

Tak dapat disangkal lagi, penyebab utama banjir masih didominasi oleh ulah buruk manusia. Sebesar apapun curah hujan yang jatuh di permukaan bumi, tak akan berpengaruh buruk jika semua aspek ekologis terjaga dengan baik. Banjir, tanah longsor adalah akibat dari tidak arifnya kita mengelola lingkungan. Hutan yang gundul, semakin berkurangnya daerah resapan, berkurangnya zona hijau dan lain-lain menggambarkan betapa tidak cerdasnya kita dalam mengelola lingkungan. Keserakahan dan sifat tamak kita mengejar keuntungan sesaat membuat kita lupa tentang arti pentingnya lingkungan bagi kesinambungan kehidupan kita. Kita kurang memahami kearifan alam.
Dapat kita bayangkan, ketika hutan yang berfungsi sebagai resapan air semakin gundul. Ketika air hujan mengguyur kawasan tersebut, maka air tersebut langung turun ke tempat yang lebih rendah dengan leluasa, mengikis lapisan tanah permukaan ( run-off ) yang dilalui. Apalagi bila sungai yang dilalui buruk kondisi alirannya. Sungai – sungai penuh oleh sampah dan lumpur akibat erosi dari lahan yang dibabat hutannya.
Kebiasaan masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah, menjadikan sungai semakin dangkal, sehingga air sungai mudah meluap.

Dalam skala lokal, buruknya drainase kota juga punya andil besar terjadinya banjir. Di beberapa kota seperti Pontianak saluran drainase selain menampung air hujan juga menampung air limbah dari kegiatan masyarakat, sehingga beban yang ditampung oleh saluran tersebut semakin berat. Banyak saluran pembuangan air yang tak berfungsi sebagaimana mestinya . Saluran air yang ada di kota seakan – akan menjadi bak sampah komunal yang terisi oleh sampah – sampah plastik, kaleng, kertas, daun, dan lain – lain. Maka tidalah mengherankan ketika hujan turun dengan lebatnya beberapa jam saja, kota yang telah menjadi ”hutan beton”, jalan aspal, kawasan pemukiman padat, dan daerah industri itu terendam air.

Selain itu, industrilisasi beserta kegiatan yang mengikutinya ( seperti transportasi dan gedung – gedung ber-AC ) berdampak pada efek rumah kaca ( green house effect ) yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global ( global warming ). Suhu muka air laut naik. Dan daratan beku di Benua Antartikapun meleleh. Akibatnya, tejadilah kenaikan permukaan air laut ( Sea Level Rise atau SLR ).

Menurut analisa Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional ( Bakosurtanal ), laju SLR di beberapa pulau kecil dan kota di pantai utara jawa ( seperti Jakarta, Semarang, dan Jepara ) sekitar 8 mm/tahun. Dampaknya adalah menimbulkan pembendungan di muara – muara sungai dan mulut saluran drainase terhadap air tawar yang datang dari daratan. Jika hal ini disertai dengan curah hujan yang tinggi, banjir pun menjadi kian hebat.

Kondisi ini diperparah oleh muara – muara sungai di Indonesia yang umumnya landai. Pembendungan tersebut membuat kecepatan air sungai berkurang. Akibatnya laju sedimentasi di muara akan bertambah sehingga menguragi daya tampung sungai di muara.
Bagaimana caranya kita menangani banjir ? Tidaklah mudah menangani banjir yang begitu kompleks, diperlukan strategi yang komprehensif dengan melibatkan berbagai instansi terkait dan masyarakat.

Secara filosofis, penanganan banjir dapat dilakukan dengan beberapa strategi. Pertama, menerapkan pola protektif. Pola ini dilakukan dengan membangun bangunan pengendali banjir, misalnya waduk, kolam – kolam penampungan, sumur resapan, saluran pengendali banjir, drainase, pintu air beserta instalasi pompanya, dan tanggul. Pada pola ini juga diharapkan adanya Sistem Pengendalian Drainase Terpadu Kota yang mampu mendeteksi debit dan volume air yang memasuki saluran drainase kota. Kedua, dengan pola adaptasi. Pola ini dilakukan dengan cara menyesuaikan kondisi yang terjadi misalnya dengan membuat rumah panggung atau meninggikan badan jalan yang sering tergenang banjir. Ketiga, dengan pola retreat ( mundur ), yakni dengan menyesuaikan peruntukan lahan sesuai dengan kondisi alamnya. Salah satunya, menjauhkan permukiman penduduk dari daerah rawan banjir. Diperlukaan adanya pemetaan yang akurat daerah – daerah yang rawan banjir. Upaya lainya adalah membangun Sistem Peringatan Dini Banjir. Daerah – daerah rawan banjir perlu memasang instalasi teknologi yang dapat mendeteksi curah hujan dan debit air sehingga mampu secara dini memprediksi terjadinya banjir.

Selain itu, program – program seperti Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan guna mengurangi laju erosi dan run-off ( aliran permukaan ) , Program Kali Bersih yang dapat mengurangi gangguan terhadap aliran sungai sekaligus menambah daya tampung sungai serta Program Langit Biru yang diharapkan dapat mengurangi emisi gas buang ke udara sehingga dapat menurunkan laju pemanasan global, harus sering digalakkan.
Tapi yang terpenting adalah bagaimana masyarakat dapat berperan secara aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup, masyarakat sadar sebagai bagian dari lingkungan dimana ia berada, sehingga diharapkan akan tumbuh kearifan lokal. Contoh tumbuhnya kearifan lokal dalam mengelola lingkungan , seperti yang telah ditunjukkan oleh masyarakat adat antara Desa Teriak dan Desa Temia Sio Kecamatan Teriak Kabupaten Bengkayang yang telah menetapkan Hutan Gunung Jalo sebagai Hutan Adat. Dengan melestarikan hutan masyarakat setempat dengan hukum adat yang melekat padanya memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan ekosistem hutan dan seluruh habitat yang ada didalamnya. Yang tak kalah pentingnya adalah menanamkan pendidikan lingkungan sejak dini. Perlu ditanamkan ” Kesolehan Lingkungan ”, bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan bentuk ibadah dan perwujudan syukur kepada Sang Khalik. . (Penulis adalah staf Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak).

AYO HIJAUKAN KOTA KITA !

Kota memiliki daya tarik yang mampu menyedot orang untuk berlomban – lomba mendatanginya. Sebagai pusat perdagangan, perindustrian, jasa, hiburan, pemerintahan dan pendidikan menjadikan beban kota semakin berat. Permasalahan lingkungan hiduppun di kota sangat spesifik dan begitu kompleks. Permasalahan tidak hanya terbatas pada kondisi sosialnya, namun juga pada komponen lingkungan lainnya. Permasalahan yang ada mulai dari infrastruktur, ketersedian air bersih, sanitasi, polusi, kemacetan lalu lintas, sampai kepada berkurangnya ruang terbuka hijau.

Keterbatasan lahan dan peningkatan jumlah penduduk setiap tahun menyebabkan kota menjadi padat. Akhirnya, kedua faktor tersebut dapat menimbulkan kekumuhan kota. Aktivitas kota akan mempengaruhi kualitas lingkungan perkotaan. Kota dengan kegiatan industri, perdagangan, dan jasa yang intensif akan menimbulkan permasalahan lingkungan. Kompetisi penggunaan lahan yang terjadi antara guna lahan dengan fungsi ekonomis, seperti perdagangan dan jasa, industri serta pemukiman, mendesak keberadaan ruang terbuka bervegetasi.

Pada kenyataannya pertambahan penduduk berakibat pada peningkatan jumlah sarana untuk memenuhi dan memudahkan kegiatan sehari-hari. Sarana yang semakin bertambah adalah kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor sangat dibutuhkan sebagai kendaraan yang dapat mempersingkat waktu.. Menurut Ir. Haryadi S. Triwibowo , Kabid Pengawasan dan Penaatan Hukum Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak (dimuat di salah satu harian lokal Pontianak tangal 23 Oktober 2009 ) , berdasarkan hasil pengujian emisi sumber bergerak kendaraan bermotor yang telah dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak empat tahun terakhir ini didapat 65 % dari 600 kendaraan bermotor yang diuji berada diatas ambang batas gas emisi yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Dari 65 % itu, sebagian besar merupakan angkutan umun. Menurut Beliau, pertumbuhan kendaraan bermotor di kota Pontianak mencapai 17 % setiap tahunnya dan saat ini jumlah kendaraan bermotor telah mencapai 450 ribu unit. Semakin besar pertumbuhan kendaraan berarti semakin banyak gas emisi buangannya. Sehingga perlu pemakaian kendaraan secara efektif.

Daerah perkotaan dengan jumlah penduduk yang padat menyebabkan berkurangnya lahan untuk vegetasi. Lahan bervegetasi diganti dengan permukiman, gedung-gedung, dan industri untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Ruang terbuka hijau yang sempit menyebabkan radiasi panas dari sinar matahari tidak dipantulkan, namun langsung diserap oleh gedung-gedung, dinding, dan atap. Sarana dan prasarana seperti fasilitas gedung, jalan, pertokoan, permukiman, pabrik menyebabkan berkurangnya jumlah ruang vegetasi di kota. Sarana transportasi yang semakin meningkat menyebabkan naiknya kuantitas gas CO2. Sedikit ruang vegetasi yang ada menyebabkan berkurangnya penyerapan CO2, akibatnya terjadi ketidakseimbangan komposisi udara. Hal ini mengakibatkan suhu permukaan meningkat 10 s.d. 20oC dari suhu udara ambient (Heidt dan Neef 2006).

Besarnya jumlah penduduk, banyaknya bangunan-bangunan, jumah kendaraan bermotor yang tidak seimbang dengan panjang ruas jalan yang tersedia sebagai penyebab kemacetan jalan, dan kebisingan menyebabkan Kota terasa semakin sesak dan tidak nyaman. Dalam melakukan kegiatan sehari-hari, suatu hal yang sangat diperhatikan adalah faktor kenyamanan dalam melakukan suatu kegiatan, apalagi jika berhubungan dengan kegiatan kesenangan atau bermain maka faktor kenyamanan merupakan prioritas yang sangat penting. Sebagian besar kota di Indonesia saat ini dirasakan tidak nyaman, penuh kebisingan, panas dan berdebu di waktu siang hari, polusi udara, banjir jika musim penghujan. Salah satu penyebabnya adalah hilangnya salah satu daya dukung lingkungan.
Peningkatan suhu udara di perkotaan terjadi akibat meluasnya areal terbangun tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan.. Kota akan menyimpan dan melepaskan panas di siang hari dan malam hari. Pada malam hari kota menjadi lebih panas dibanding daerah sekitarnya dan terjadi efek pulau bahang atau urban heat island.

Jalur hijau vegetasi berguna untuk mengurangi efek pulau bahang. Tumbuhan dan air akan mengurangi panas melalui evapotranspirasi yang dilakukan. Penambahan luas permukaan untuk vegetasi dapat menurunkan suhu maksium udara.

Manfaat dari segi ini dapat langsung dirasakan. Manfaat yang dapat langsung dirasakan adalah menciptakan iklim mikro di dalam perkotaan. Rumput-rumputan walaupun tergolong tanaman bawah, namun memiliki peranan untuk merubah komposisi CO2 udara sekitar, presipitasi, dan suhu sekitar dalam kisaran kecil (Dukes et al. 2005).

Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan kota, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Dengan adanya mekanisme ini jumlah debu yang melayang-layang di udara akan menurun. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting.

Daun yang berbulu dan berlekuk seperti halnya daun Bunga Matahari dan Kersen mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menjerap partikel dari pada daun yang mempunyai permukaan yang halus. Manfaat dari adanya tajuk hutan kota ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan sehat, jika dibandingkan dengan kondisi udara pada kondisi tanpa tajuk dari hutan kota (Dahlan dan Endes 1992).

Penghijauan atau hutan kota dapat mengurangi efek pulau bahang. Vegetasi mengurangi efek ini melalui penyerapan sumber-sumber pencemar. Penelitian di Toronto tahun 2005 membuktikan bahwa vegetasi dapat mengurangi sumber-sumber pencemar NO2, S02, CO, PM10 and ozon. Rumput di atap dapat menyerap CO 0,14 - 0,35 Mg, menyerap NO2 0,65 - 1,60 Mg, menyerap ozon 1,27 - 3,1 Mg, menyerap PM10 0,88 - 2,17 Mg, menyerap SO2 0,25 - 0,61 Mg. Pohon mampu menyerap CO 0,06 - 0,57 Mg, NO2 0,62 - 3,74 Mg, ozon 1,09 - 7,4 Mg, PM10 1,37 - 5,57 Mg, dan SO2 0,23 - 1,37 Mg (Currie dan Bass 2005). Ruang terbuka hijau berupa hutan kota mampu mereduksi kebisingan, tergantung dari jenis spesies, tinggi tanaman, kerapatan dan jarak tumbuh, dan faktor iklim yaitu suhu, kecepatan angin, dan kelembaban.

Keuntungan sosial dari penghijauan dapat dirasakan oleh individual, atau seluruh penduduk. Pemandangan ruang hijau dapat meningkatkan produktivitas kerja, mengurangi stress, dapat mempercepat penyembuhan. Keuntungan ruang hijau juga dirasakan oleh organisasi. Pekerja yang di ruangan sekitanya terdapat pemandangan hijau vegetasi memiliki produktivitas kerja yang lebih tinggi, dan supervisor menyatakan bahwa pekerjanya lebih produktif. Sebagian besar keuntungan penghijauan/lingkungan hijau terukur pada tingkat individu. Pemandangan vegetasi dan air telah dibuktikan mengurangi stres, meningkatkan penyembuhan, dan mengurangi penderita frustasi dan agresi. Pemandangan ruang hijau di rumah juga terkait dengan rasa kasih sayang yang tinggi dan kepuasan tetangga.

Kaitan segala aspek penghijauan di atas terhadap kehidupan masyarakat menjadikan masyarakat kota berwawasan ekologi. Tujuan dari masyarakat kota berwawasan ekologis adalah menyampaikan permasalahan lingkungan perkotaan yang tanpa dirasa cenderung memburuk, menjadikan kota tempat yang aman dan nyaman untuk bekerja, hidup, dan membesarkan anak tanpa merusak kemampuan generasi depan untuk berbuat hal yang sama. Tujuan masyarakat berwawasan ekologi terletak pada umat manusia yang hidup berdampingan dengan siklus alam pada prioritas kepedulian lingkungan dalam penyelenggarakan perkotaan (Inoguchi et.al. 2003).

Kesimpulan
Permasalahan yang selalu ada di kota adalah pertambahan penduduk setiap tahun. Pertambahan ini menyebabkan peningkatan sarana penunjang berupa kendaraan bermotor dan gedung/bangunan. Sarana ini menyebabkan masalah pada kondisi fisik kota. Masalah yang muncul adalah terciptanya efek pulau bahang, udara kota yang tidak sehat, kebisingan, dan ketidaknyamanan hidup di kota. Penghijauan mampu mengembalikan iklim mikro kota sehingga menghilangkan efek pulau bahang. Vegetasi juga mampu menyerap debu dan polutan yang dihasilkan kendaraan bermotor. Manfaat lain adalah vegetasi mampu meredam kebisingan dan meningkatkan kenyamanan hidup di kota. Maka tunggu apa lagi Ayo hijaukan kota kita ! Hijau Kotaku……Sehat Wargaku. ( Penulis merupakan Staf Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak ).

Rabu, 30 September 2009

DARI PEMBANGUNAN BERTUMPU PADA PERTUMBUHAN MENUJU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Oleh : Imansyah

Kita sekarang berada di dunia yang bergerak begitu cepat. Informasi, teknologi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan bergerak tanpa mengenal batas – batas wilayah. Perubahan yang secara cepat dan mendasar yang terjadi terus menerus dimana – mana mengakibatkan kemajuan sekaligus juga ketimpangan sosial, perkembangan global sekaligus peminggiran budaya lokal, eksploitasi sumber daya sekaligus peningkatan dampak lingkungan yang kompleks. Fenomena tersebut terus berlangsung hingga akhirnya bermuara pada persoalan keadilan dan keberlanjutan masa depan. Muncul kekhawatiran akan datangnya bencana ekologi yang dapat menyebabkan hancurnya daya dukung lingkungan dan sulit untuk dipulihkan lagi. Suatu bencana yang merupakan ulah kerakusan generasi kini yang pada akhirnya akan mengurangi kemampuan hidup generasi yang akan datang.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, maka perlu ada pengkajian ulang paradigma pembangunan, dari paradigma yang bertumpu pada strategi pertumbuhan ( ekonomi ) menuju pembangunan berkelanjutan ( ekologi ). Menarik untuk dikaji bersama pemikiran baru mengenai integrasi ekonomi dan ekologi menuju pembangunan berkelanjutan.

Pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dengan angka tidak menggambarkan peningkatan pemerataan yang diharapkan. Kesenjangan terjadi di kalangan masyarakat, sekelompok kecil konglomerat menguasai sebagian besar aset produktif dan sebagian besar rakyat hanya dapat mengelola aset produktif yang relatif kecil.

Modernisasi melalui paradigma pertumbuhan, disamping mendatangkan manfaat bagi sekelompok masyarakat namun juga merugikan bagi kelompok masyarakat lainnya. Kritik yang mengemuka berkaitan dengan paradoks modernisasi yang terjadi seperti pertumbuhan ekonomi versus kemerosotan ekosistem, bertumpuknya kekayaan atau kekuatan ekonomi hanya pada segelintir orang atau beberapa kelompok versus marginalisasi atau pemiskinan, globalisasi versus lokalisasi. Proyek – proyek modernisasi yang diyakini dapat menyelesaikan sejumlah masalah, ternyata malah menimbulkan masalah baru yang tak kalah pelikya.

Kecenderungan modernisasi yang menggalang akumulasi modal dan pemanfaatan alam sebesar – besarnya, dianggap memiliki dampak mendorong kerakusan manusia atas alam. Proyek besar dianggap sebagai arena pemasaran teknologi dan industri negara maju yang mengakibatkan ketergantungan dan membebani hutang luar negeri negara miskin. Disamping itu juga menjadi biang keladi tersingkirnya masyarakat kecil dan tidak jarang mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Pembangunan sedang mencari bentuk baru, ketika realitas yang berkembang justru terjadi ancaman bencana ekologi. Krisis multi dimensi Indonesia yang terjadi sejak tahun 1997, merupakan contoh yang dapat kita rasakan betapa pembanguan yang terlalu cepat tanpa perencanaan dan pengawasan yang tepat dan cermat membawa perubahan berakibat pada hancurnya ekosistem dan tatanan sosial kemasyarakatan. Berbagai pemikiran baru dan upaya nyata sedang dilakukan dengan memaknai nilai spritual dan mencari solusinya melalui pembangunan berkelanjutan.

Ide tentang Pembangunan Berkelanjutan ( Sustainable Development ) berakar pada pemikiran untuk mengintegrasikan ekonomi dan ekologi ( WCED, 1987; Boester, 1994; Panayotue, 1994 ). Ide ini merupakan paradigma baru dalam pembangunan yang mulai diterjemahkan ke dalam berbagai konsep. Kesadaran mengenai masalah lingkungan dipicu oleh munculnya dampak negatif dari proses industrilisasi yang cenderung mengeksploitasi sumber daya alam secara besar – besaran yang menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan ( Dhakidae, 1994 ).

Berbagai isu yang berkembang mengenai lingkungan mendorong Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ) menyelenggarakan konferensi mengenai Human Environment di Stockholm tahun 1972. Konferensi ini melahirkan deklarasi The Principles of Environment and Development. Sejak pertemuan Stockholm tersebut isu mengenai lingkungan berkembang pesat mempengaruhi pergeseran paradigma pembangunan yang dianut oleh negara maju yang semula sangat mengutamakan pertumbuhan ekonomi bergeser menuju peningkatan kualitas hidup melalui pembangunan berwawasan lingkungan.

Berbagai pandangan mengenai pembangunan dan lingkungan merupakan suatu proses yang alamiah. Sebagaimana konsep tentang pembangunan, konsep tentang pembangunan berkelanjutan ini sangat beragam atau bervariasi yang dipengaruhi kondisi pembangunan maupun kepentingan suatu negara dan kelompok tertentu seperti jaringan bisnis dan komunitas lokal. Kegiatan pembangunan, baik itu ekonomi maupun sosial budaya, merupakan hubungan atau interaksi antara manusia dengan lingkungan sekitarnya ( Colby, 1990 ).

Pembangunan berkelanjutan, setidaknya membahas berbagai hal yang antara lain : pertama, upaya memenuhi kebutuhan manusia yang ditopang dengan kemampuan daya dukung ekosistem; kedua, upaya peningkatan mutu kehidupan manusia dengan cara melindungi dan menjaga keberlanjutannya; ketiga, upaya meningkatkan sumber daya manusia dan alam yang akan dibutuhkan pada masa mendatang; keempat, upaya mempertemukan kebutuhan – kebutuhan manusia secara antar generasi.

Agenda Pembangunan Berkelanjutan Indonesia ( Agenda 21 Indonesia ) memuat bahwa dalam upaya mengelola agar pembangunan ekonomi Indonesia berlangsung secara berkelanjutan, dibutuhkan strategi integrasi lingkungan ke dalam pembangunan ekonomi. Strategi integrasi tersebut meliputi pertama, pengembangan pendekatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan; kedua, pengembangan pendekatan pencegahan pencemaran; ketiga , pengembangan sistem neraca ekonomi , sumber daya alam dan lingkungan ( Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, 1997 ).

Pembangunan berkelanjutan memerlukan proses integrasi ekonomi dan ekologi melalui upaya perumusan paradigma dan arah kebijakan yang bertumpu pada kemitraan dan partisipasi para pelaku pembangunan dalam mengelola sumber daya yang seoptimal mungkin dapat dimanfaatkan. Menarik untuk mereview tiga isu strategis pembangunan yang dulu lebih dikenal dengan istilah Trilogi Pembangunan dan memodifikasi salah satu logi ” paradigma stabilitas menjadi sustainabilitas”. Maka urutanya adalah ( 1 ) Pemerataan, ( 2 ) Pertumbuhan, ( 3 ) Sustainabilitas.

Pemerataan ( Equity ), merupakan isu strategis pemerataan menyangkut aset, proses, dan hasil pembangunan. Pemerataan aset – aset produksi seperti lahan, modal/kredit, teknologi, informasi, dan kesempatan usaha yang didukung kebijakan dan kepastian hukum, sebagai modal dasar pembangunan. Sinergi yang dicapai anatar aktor dan sektor pembangunan menjadi dasar bagi pertumbuhan dan keberlanjutan. Pertumbuhan ( Growth ), merupakan isu strategis dalam mengembangkan potensi dan mengakselerasikan dinamika pembanguan dengan memanfaatkan keunggulan sumber daya dan inovasi, guna mencapai pertumbuhan yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Keberlanjutan ( Sustainability ), merupakan isu strategis dalam mengharmoniskan daya dukung lingkungan dan dinamika pembangunan agar dapat dicapai manfaat antar kelompok masyarakat maupun antar generasi secara adil. ( Penulis, Staf Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak ).



Kamis, 10 September 2009

Pelestarian Lingkungan Menurut Perspektif Alqur’an

Oleh : Imansyah

Sungguh beruntung kaum Muslimin yang dianugerahi oleh Allah SWT sebuah pedoman hidup berupa Alqur’an yang menuntun hidupnya agar selamat dunia dan akherat. "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu." (QS. 5 : 3). Oleh karena itu aturan – aturan yang ada dalam Alqur’an mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.

Dalam Islam, manusia mempunyai peranan penting dalam menjaga kelestarian alam (lingkungan hidup). Islam merupakan agama yang memandang lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seseorang terhadap Tuhannya, manifestasi dari keimanan seseorang dapat dilihat dari perilaku manusia, sebahai khalifah terhadap lingkungannya. Islam mempunyai konsep yang sangat detail terkait pemeliharaan dan kelestarian alam (lingkungan hidup).

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi. Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Khalik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan. Allah berfirman yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30).

Allah berfirman yang artinya: ”Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al an’am 165).
Dalam konsep khilafah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.

Manusia mempunyai hak (diperbolehkan) untuk memanfaatkan apa yang ada di muka bumi (sumber daya alam) dengan tidak melampaui batas atau berlebihan. Dalam surat Al-An’am ayat 141-142 Allah berfirman yang artinya: “Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al an’am: 141)”.
“Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al an’am 142). Kita diperbolehkan untuk memanfaatkan semua sumber daya yang ada di alam semesta ini dengan bijak atau dalam taraf yang tidak melampaui batas. Sehingga eksploitasi yang dilakukan tidak mengakibatkan langka dan punahnya spisies-spisies tertentu. Pemanfaatannya tidak mengganggu keseimbangan alam dan menimbulkan kerusakan alam.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia memiliki kewajiban melestarikan alam semesta dan lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya. Agar hidup di dunia menjadi makmur sejahtera penuh keberkahan dan menjadi bekal di hari akhir kelak. Manusia diberi amanah untuk membuat kebaikan di muka bumi. Tanggung jawab mengelola dunia sama pentingnya dengan akherat. Hal ini secara langsung diungkapkan oleh Allah dalam salah satu firmanNya dalam surat Al a’raf ayat 56 yang kurang lebihnya berbunyi; “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Selain itu Allah juga berfirman dalam surat Ar ruum ayat 41 yang artinya; “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ayat ini mengingatkan manusia bahwa kerusakan muka bumi, baik di laut maupun darat, merupakan akibat ulah tangan manusia. Kerusakan di muka bumi tersebut dapat ditafsirkan berupa kerusakan moral manusia dan kerusakan fisik sebagai akibat kerakusan dan keserakahan manusia. Sedangkan tangan manusia dapat dimaknai secara harfiah sebagai tangan biasa seperti kasus kemiskinan yang mengakibatkan rusaknya lingkungan pada tingkat lokal atau yang lebih ekstrim lagi adalah tangan sebagai kekuasaan yang rakus dan zalim dapat merusak lingkungan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu. Jadi memang tak dapat dipisahkan rentetan kerusakan, mulai kerusakan moral hingga kerusakan fisik lingkungan.
Ayat – ayat Alqur’an yang telah kita bahas diatas sebelumnya menuntut konsekwensi logis yaitu menuntut perlunya kesatuan pikiran, sikap dan perbuatan dalam posisi manusia sebagai khalifah, artinya amaliah manusia duniawi dan ukhrowi sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan .

Dan yang tak kalah pentingnya adalah untuk menekankan ”Kesolehan Lingkungan ”, bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan bentuk ibadah dan perwujudan syukur kepada Sang Khalik. .”Apabila engkau bersyukur maka akan kutambahkan nikmatKu tapi apabila engkau ingkar, maka ingatlah sesungguhnya azabKu amat pedih.” Tidak satu pun diantara kita dapat menghitung berapa nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada kita. ”Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (QS. Ibrahim :34).”Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.” (QS. Lukman :20).”Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?”(QS. Ar-Rahman:13).
Peradaban manusia cenderung menempatkan manusia sebagai porosnya ( antroposentris) hingga seringkali berakibat pada pemberhalaan hawa nafsu dalam memenuhi keinginannya yang pada gilirannya dapat meninmbulkan kerusakan lingkungan. Maka manusia perlu melihat kembali kedudukan dan martabatnya sebagai khalifatullah fil ardh. Kesadaran manusia dalam perannya sebagai khalifah yang telah ditunjuk oleh Allah di muka bumi seyogyanyalah menjadikannya bertindak arif dan bijaksana dalam mengelola kekayaan alam dan bumi sehingga terhindar dari kerusakan. Dan kelestarian bumi dan lingkungan hidup tetap terjaga. ( Penulis merupakan staf Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak ).

Jumat, 24 Juli 2009

Temuan Ilmiah Modern: Amal Baik Membahagiakan

Oleh: Syaefudin

Para ilmuwan dari Universitas Rochester, Amerika Serikat, telah meneliti 147 orang alumni dari dua perguruan tinggi. Para mantan mahasiswa itu dinilai segi kepuasan hidup mereka, harga diri, perasaan khawatir, tanda-tanda adanya perasaan terkekan (stres) pada raga, serta pengalaman kejiwaan yang baik dan buruk. Penelitian dilakukan dua kali, yakni tahun pertama dan kedua setelah kelulusan.

Penelitian yang dilakukan Christopher Niemic, Richard Ryan, dan Edward Deci ini mengelompokan pertanyaan menjadi dua bagian. Pertama, yang berhubungan dengan persahabatan yang erat dan langgeng, serta sikap menolong memperbaiki hidup orang lain. Bagian ini disebut aspirasi intrinsik, atau cita-cita yang bersumber dari dalam diri. Pengelompokan kedua berkaitan dengan keinginan menjadi seorang yang kaya dan mendapatkan pujian. Bagian terakhir ini digolongkan ke dalam aspirasi ekstrinsik, yakni cita-cita yang bersumber dari luar. Para peserta diminta menilai kedua jenis cita-cita tersebut. Mereka juga melaporkan sejauh mana mereka telah meraih tujuan itu.

Apa kata peneliti?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cita-cita intrinsik lebih membuat orang bahagia daripada ekstrinsik. Dengan mencapai tujuan intrinsik, mereka telah memenuhi kebutuhan dasar kejiwaan. “Cita-cita intrinsik kelihatan lebih dekat hubungannya dengan diri seseorang, lebih pada apa yang ada dalam diri, daripada apa yang ada di luar diri”, jelas Christopher Niezmic.

Berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kekayaan dan sanjungan di satu sisi tak banyak membawa kebahagiaan. Sikap tersebut membuat diri merasa selalu kekurangan. Meski dipandang sebagai prestasi, pencapaian tujuan ekstrinsik seperti harta, pujian, dan ketenaran belum cukup memuaskan hati. Bahkan, usaha menggapai ‘kenikmatan duniawi’ ini dapat menimbulkan rasa malu, marah, gelisah, sampai gangguan raga seperti sakit kepala, sakit perut, dan kehilangan tenaga.

“Meskipun kebudayaan kita menaruh penekanan kuat pada pencapaian kekayaan dan ketenaran, mengejar tujuan-tujuan ini tidaklah bersumbangsih pada diraihnya kepuasan hidup. Hal-hal yang dapat membuat hidup Anda bahagia adalah berkembangnya pribadi, memiliki hubungan kasih sayang, serta memberi manfaat bagi masyarakat Anda”, saran Prof. Edward Deci.


Sebagai contoh, Chelsea McGuire, penerima beasiswa Fulbright. Calon dokter ini akan menghabiskan setahun di Republik Dominika untuk membantu menanggulangi penyebaran penyakit HIV, sebelum ia masuk Sekolah Kedokteran. Ia ingin menjadikan pelayanan kesehatan, yang ia pandang sebagai ‘kebutuhan pokok sebelum segala lainnya’, semakin besar dirasakan manfaatnya dan terjangkau. “Itu bukan pekerjaan yang memesonakan, terutama dalam hal berlimpahnya ketenaran dan harta. Namun itulah yang saya pikir dapat membuat saya lebih bahagia daripada selainnya”, katanya

Ashley Anderson, Presiden organisasi kampus Black Students’ Union yang sekaligus penari handal berharap dapat menyediakan kesempatan pendidikan bagi semua, tanpa menghiraukan ‘syarat khusus’ atau cap lainnya. Dia berpikir dengan menjadi cerdas dan punya perencanaan ke depan, keuangannya akan terjamin tanpa perlu menjadi materialistis. “Saya orang beriman,” katanya. “Tidak ada jumlah uang yang mampu menyamai apa yang Tuhan dapat berikan kepada saya dan apa yang dapat saya berikan kepada orang lain”.

Senada dengan dua orang sebelumnya, seorang calon analis industri pelayanan kesehatan, Asher Persigian, berkata, “tanpa orang-orang… untuk berbagi hidup dengan Anda, saya sungguh melihat tak ada gunanya”. Ketika mendapatkan beberapa tawaran pekerjaan, ia mengambil tawaran bekerja yang di dekat tempat asalnya dan dekat keluarganya bermukim.

Kunci bahagia

Demikianlah hasil penelitian terbaru tentang kekayaan, kemasyhuran, dan sanjungan. Ternyata, cita-cita hidup semacam itu tidaklah cukup membahagiakan.

Pencapaian tujuan hidup intrinsik berdampak baik bagi kesehatan jiwa. Sedangkan pencapaian cita-cita ekstrinsik merupakan pertanda terjangkiti penyakit kejiwaan atau adanya ketidakbahagiaan. Cita-cita intrinsik yang berupa hubungan antar-manusia yang dilandasi cinta kasih dan kepedulian, serta dimilikinya keahlian dan keterampilan melalui perjuangan berat, memiliki manfaat yang terasa langgeng. Sebaliknya, cita-cita ekstrinsik berupa menumpuk harta dan pujian, dirasakan cepat memudar dan segera terlupakan.

Terdapat sejumlah keuntungan lain bagi mereka yang memiliki tujuan hidup intrinsik, yakni yang menaruh perhatian pada berkembangnya pribadi, eratnya hubungan antar-manusia, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, dan kesehatan raga. Mereka ini lebih merasakan adanya kesejahteraan, prasangka baik terhadap diri mereka sendiri, pertalian yang lebih erat dengan sesama, dan lebih sedikit memiliki tanda-tanda stres pada tubuh mereka.

Utamakan amal baik

Hasil ini membuktikan betapa rapuh tujuan sebagian orang yang telah dilalaikan dunia. Mereka berpacu menumpuk harta dan mengharap pujian. Ada yang yang ikut kontes bintang agar cepat terkenal. Sebagian bermain lotere, berjudi, bahkan ada yang ke dukun minta jimat penglaris barang dagangan sehingga cepat menjadi jutawan. Seakan-akan, hanya itulah tujuan hidup di bumi, yang ternyata terbukti secara ilmiah tidak membawa kebahagiaan hidup.

Dunia dan isinya bukanlah sesuatu yang kekal. Manusia hendaknya lebih mengutamakan amal baik. Karena, inilah yang telah terbukti secara ilmiah dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup, sebagaimana pula diperintahkan Pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al Kahfi 18: 45-46).

Referensi:

1). Edward Deci, Christopher Niemic, Richard Ryan (2009). Achieving Fame, Wealth, and Beauty are Psychological Dead Ends, Study Says. Rochester.edu. May 14, 2009. (http://www.rochester.edu/news/show.php?id=3377, terkunjungi pada 20 Juni 2009)

2). Edward Deci, Christopher Niemic, Richard Ryan (2009). The Path Taken: Consequences of Attaining Intrinsic and Extrinsic Aspirations in Post-college Life. Journal of Research in Personality. Vol 43 (3):291-306.

3). Joyce Gramza (2009). Money vs Happiness. ScienCentral.com, May 13, 2009. http://www.sciencentral.com/video/2009/05/13/money-vs-happiness, terkunjungi pada 28 Juni 2009).

Source : www.hidayatullah.com

Rupa Guna Air Seni Manusia

Oleh: Syaefudin*

Air seni, air kencing, atau urin adalah nama yang semakna. Ia merupakan cairan sisa reaksi biokimiawi rumit yang terjadi di dalam tubuh. Meski zat buangan, urin manusia masih mengandung bahan kimia seperti nitrogen, fosfor, dan potasium. Bila menumpuk dan tidak dikeluarkan, maka akan menjadi racun yang malah membahayakan tubuh.

Sebanyak 70% bahan makanan (nutrisi) yang dikonsumsi manusia dikeluarkan dalam bentuk air seni. Dalam setahun, seseorang dapat mengeluarkan air kencing kira-kira sebesar 500 liter. Jumlah ini setara dengan 4 kg nitrogen, 0.5 kg fosfor, dan 1 kg potasium. Ketiganya termasuk unsur penting dalam pertumbuhan tanaman.

Pupuk Urin

Walaupun terkadang berbau menyengat, air kencing ternyata membawa manfaat. Contoh penggunaan urin yang kini tengah berkembang adalah sebagai pupuk tanaman. Di beberapa negara, pupuk urin merupakan bagian dari program pemanfaatan limbah yang disebut Ecosan.

Ecological Sanitation (Ecosan) diilhami oleh banyaknya permasalahan lingkungan, terutama yang berkaitan dengan limbah rumah tangga seperti kotoran manusia. Dahulu, sebagian menganggap limbah tersebut tak berguna sehingga sering dibuang begitu saja. Namun, sebenarnya kotoran tersebut dapat diolah sedemikian rupa sehingga lebih berdaya guna. Di samping mampu menjaga kesuburan tanah, teknologi ini juga dapat membantu mewujudkan ketahanan pangan.

Sejumlah negara sudah mulai menggalakkan program daur ulang limbah manusia ini. Sebut saja Cina, Zimbabwe, Meksiko, India, dan Uganda. Bahkan, beberapa negara Eropa juga turut serta dalam program ini, misalnya Jerman dan Swedia.

Menurut Ian Caldwell dan Arno Rosemarin dari Stockholm Environment Institute, Swedia, penggunaan urin dan kotoran manusia sebagai pupuk adalah cara utama dalam menerapkan pertanian berkelanjutan. Lebih jauh lagi, hal tersebut dapat membantu tercapainya ketahanan pangan dan mendukung tersedianya nutrisi yang lebih baik.

Sementara itu, penelitian air seni manusia sebagai pupuk juga telah dilakukan oleh MnKeni bersama teman-temannya dari Universitas Fort Hare, Afrika Selatan. Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan urin sebagai sumber nitrogen sebanding dengan pupuk urea. Kendati demikian, hasil ini bergantung pada kepekaan tanaman yang dipanen terhadap kadar garam (salinitas) lahan tempat bercocok tanam. Oleh karenanya, perlu pengawasan dalam penggunaan pupuk air seni ini.

Banyak Kelebihan

Pupuk urin memiliki banyak keunggulan, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Dalam lingkungan, penggunaan pupuk ini memperbaiki penanganan kesehatan masyarakat. Penggunaan pupuk air seni juga mampu meningkatkan hasil panen sehingga taraf hidup masyarakat membaik. Dengan kata lain, air kencing dapat menurunkan angka kemiskinan.

Salah satu masalah yang dikhawatirkan dari pemanfaatan pupuk jenis ini adalah rasa produk tanamannya. Logikanya, penggunaan air seni sebagai pupuk berkemungkinan mempengaruhi mutu hasil tanaman. Namun, permasalahan ini ditepis oleh penelitian Surendra K. Pradhan dan rekannya dari Universitas Kuopio, Finlandia.

Mereka membandingkan penggunaan air kencing manusia sebagai pupuk kubis dengan pupuk buatan industri. Hasilnya, kemampuan pupuk urin sama dengan pupuk buatan industri pada dosis 180 kg N/ha.

Bahkan pertumbuhan, biomassa, dan kandungan klorida tanaman sedikit lebih tinggi jika menggunakan pupuk air seni. Serangga yang biasanya ikut mati akibat penggunaan pupuk industri juga berkurang dengan menggunakan pupuk alami ini.

Penelitian ilmuwan ini membuktikan bahwa air seni manusia dapat digunakan sebagai pupuk tanpa mengancam nilai kehigienisan tanaman yang berarti. Selain itu, rasa produk makanannya juga tak berkurang meski tanaman yang menjadi bahan bakunya diberi pupuk urin.

Lidah Pengecap Air Seni

Keberadaan air kencing manusia yang banyak mengandung zat sisa reaksi biokimiawi tubuh tak hanya dimanfaatkan sebagai pupuk. Cairan berbau ini juga mendorong peneliti untuk menciptakan lidah elektronik. Lidah yang terdiri atas bermacam sensor kimia potensiometrik tersebut digunakan sebagai pendeteksi kegagalan fungsi sistem urin dan kadar kreatinin.

Kreatinin adalah hasil pemecahan kreatinin fosfat di dalam otot. Senyawa ini normal ada dalam urin, yakni sebesar 0.5-1 mg untuk perempuan, dan 0.7-1.2 mg untuk laki-laki. Namun, jumlah yang berlebih menandakan ada kerusakan dalam ginjal.

Di samping dapat mengelompokkan contoh urin yang diteliti, lidah buatan juga mampu membedakan contoh urin orang sehat dengan yang mempunyai penyakit tumor kandung kemih. Dengan data analisis urin yang dihasilkan mungkin bisa mengetahui jenis tumornya, baik yang ganas maupun tidak ganas.

Tanda Kebesaran Allah

Air kencing manusia, ternyata bukan sekedar cairan tak berguna. Sederet manfaat dimiliki oleh cairan tersebut. Inilah satu lagi bukti kebesaran Allah. Sungguh, tiada yang sia-sia segala apa yang telah diciptakan-Nya tak terkecuali air seni.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya manusia bersyukur atas apa yang Allah berikan. Sejatinya, hanya Dialah yang mampu menjadikan barang hina seperti urin manusia, dapat berfungsi laksana pupuk dan pendeteksi penyakit. Ini karena Allah adalah satu-satunya Tuhan yang memiliki sifat Maha Pencipta dan Maha Mengetahui, sebagaimana firmanNya: ”Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Hijr 15:86) (Syaefudin/www.hidayatullah.com)

Ilustrasi :http://wikimediafoundation.org

Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.